NII Dalam Timbangan Aqidah (6-Selesai)

1 Komentar

Oleh: Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam

Bab IV
FAKTOR PENYEBAB PENYIMPANGAN

Di dalam Bab III telah diuraikan bahwa terdapat beberapa hal penyimpangan aqidah yang dilakukan oleh NII diantara sekian banyak penyimpangan ialah sebagai berikut:

1. Mencampur-adukkan makna tauhid rububiyyah dengan tauhid mulkiyah.

2. Keliru dalam menafsirkan tauhid uluhiyah Laa ilaha ilallah.

3. Di dalam menafsirkan Laa ilaha ilallah, terpengaruh oleh Jabariyah yang sesat itu (salah satu firqah sesat yang telah lama ada).

4. Pemyempitan makna tauhid rububiyah, terfokus kepada hukum/hakimiyah.

5. Hukum Islam yang dipahami dan diyakini untuk diperjuangkan terfokus kepada jinayat (terutama dari generasi ke-3 NII).

6. Mengklaim bahwa hanya NII yang telah berhukum Islam, sehingga akibat tidak memahami firman Allah (Al-Maai-dah:44, 45 dan 47), berakibat melakukan takfir (mengkafirkan Muslim lain yang belum/tidak masuk NII), sebagaimana firqah Khawarij.

7. Perjuangan NII lebih memprioritaskan politik (siyasah), sehingga berlakunya hukum, ibadah dan akhlak serta mu’amalah yang benar hanyalah ada di dalam mulkiyah (NII). Inilah siyasah yang non syar’iyah.

8. Mulkiyah menjadi kriteria pertama dan terakhir bagi iman dan kafimya seseorang. Sehingga orang yang belum hijrah (ditandai dengan iqrar Syahadatain dan bai’at) ke NII dari negeri kafir, seperti RI, belumlah dianggap Muslim dan Mukmin. Seterusnya apabila tidak aktif lagi di dalam NII dianggap telah murtad, zhalim, munafik dan sebutan sejenisnya yang tentu saja menggelikan.

9. Tauhid asma wa sifat tidak dihiraukan, dan tidak pula diadakan, mereka menyerahkan saja maknanya kepada Allah. NII tidak memiliki pemahaman yang jelas di dalam tauhid jenis ini.

10. Sistematika tauhid menurut NII adalah RMU (Rububiyah, Mulkiyah dan Uluhiyyah) bertentangan dengan sistematika tauhid yang haq yakni rububiyah, uluhiyah dan asma wa sifat.

11. Menjadikan urusan furu’ (siyasah) menjadi ushul (tauhid mulkiyah). Lagi

NII Dalam Timbangan Aqidah (5)

Tinggalkan komentar

Oleh: Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam

Tafsir Ayat 1, 3 dan 4 Surat Al-fatihah, serta Ayat l, 2, dan 3 Surat An-nas Yang Haq.

Oleh sebab tauhid RMU (Rububiyah, Mulkiyah dan uluhiyah) menjadi inti aqidah pokok ajaran NII yang didasarkan kepada ayat 1, 3, dan 4 surat AI-Fatihah dan ayat 1 , 2, dan 3 surat An-Nas, maka kita perlu bertanya kepada para ulama, khususnya para mufasir, sebab merekalah orang yang paling tahu tentang makna atau tafsir ayat-ayat Al-Qur’an dengan tafsir yang ma’tsur (memiliki dasar penafsiran yang benar yakni ayat ditafsirkan dengan ayat, kemudian ditafsirkan dengan hadits dan memperhatikan ijma’ shahabat). Selanjutnya, kita akan melihat, apakah NII memahami dan meyakini akan tauhid RMU dengan dasar ayat-ayat seperti desebutkan di atas telah benar atau menyimpang? Apabila diketahui bahwa pemahamannya menyimpang, maka kita tidak dibenarkan mengikutinya, dan bagi yang telah meyakininya, maka ubahlah keyakinan itu, segera beristighfar dan rujuk kepada dien yang hanif ini.

AI-Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tafsir “Rabb” pada ayat Alhamdulillahirrabil `alamin berarti pemilik yang berhakpenuh, juga berarti majikan, juga yang memelihara serta menjamin ke-baikan kebaikan dan perbaikan semua makhluq alam semesta. Lagi

NII Dalam Timbangan Aqidah (4)

Tinggalkan komentar

Oleh: Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam

Penjelasan Tauhidullah, Antara NII Dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah

Sesungguhnya sebagian penafsiran tauhid rububiyah oleh NII seperti disebutkan di atas dengan penafsiran Ahli Sunnah wal Jama’ah tidaklah berbeda dalam hal meyakini bahwa hanya Allah-lah yang menciptakan segenap makhluk (Az-Zumar: 62), Allah-lah yang memberi rezki bagi segenap makhluk-Nya. (Hud: 6). Allah pula sebagai penguasa alam dan pengatur semesta, Dialah yang memuliakan dan menghinakan, yang menghidupkan dan mematikan, yang mengatur rotasi siang dan malam, Dialah yang maha Kuasa atas segala sesuatu (Ali Imran: 26-27). Allah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya. Sebagaimana menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rezki. (Luqman: 11, Al-Mulk: 21, AI-Fatihah: 2 atau 1 dan Al-a’raf: 54).

Pengakuan rububiyah Allah adalah sesuatu keyakinan yang fitriyah. Bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ubudiyah juga mengakui tauhid rububiyah (lihat Al-Mukminun: 86-89). Jadi tauhid jenis ini telah diakui oleh semua manusia kecuali orang-orang zindiq (lihat tafsir QS. 2: 21-22 Ibnu Katsir), hingga semodel Fir’aun (Al-Isra: 102 dan AnNaml: 14). Lagi

NII Dalam Timbangan Aqidah (3)

Tinggalkan komentar

Oleh: Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam

Sistematika Tauhid (Menurut NII)

Di dalam program kerja periode kepemimpinan Adah Jaelani, pembinaan atau kaderisasi meliputi pembinaan mental spritual; material; dan keterampilan. Di dalam pembinaan mental spritual dijelaskan bahwa pembinaan ini meliputi bidang aqidah, ideologi (pandangan hidup), akhlak dan syari’ah. Pembinaan mental spritual diarahkan pada aqidah: tauhid uluhiyah, rububiyah dan mulkiyah.

Tauhid Uluhiyah, berdasarkan juklak PDB adalah Allah minded: Tidak ada ilah lain kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tauhid Rububiyah, tidak ada aturan, ketentuan, keputusan dan keterangan lain kecuali Al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai uswatun hasanah, itulah syariat Islam. Jadi bagi tiap pribadi dan usrah hanya boleh berlaku aturan syariat Islam.

Tauhid Mulkiyah: Hanya satu lembaga kekuasaan tertinggi adalah mulkiyah Allah yang didelegasikan kepada lembaga Rasul, kemudian lembaga Ulil Amri (QS, 4:59). Lagi

NII Dalam Timbangan Aqidah (2)

1 Komentar

Oleh: Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam

Pasal 2: Akidah yang Menjadi Ajaran NII, dalam Tinjauan.

Berikut ini akan kita ketahui aqidah yang menjadi ajaran NII. Kita mulai dari aqidah yang ditanamkan SM Kartosoewirjo di dalam mengader siswanya di Institut Suffah. Diuraikannya kalimat Laa Ilaha illallah sebagai berikut:

1. La maujuda illallah

Artinya: Tidak ada yang maujud kecuali atas ijin dan takdir Allah.

Pengertian singkatnya adalah bahwa setiap kejadian, baik yang disengaja oleh manusia ataupun tidak, baik yang sesuai dengan keinginan manusia ataupun tidak, yang bersifat biasa ataupun luar biasa, yang manis dan yang pahit, yang baik maupun yang buruk, itu semua adalah atas kudrat dan iradat Allah, atas kuasa dan kehendak Allah.

Posisi makhluk termasuk manusia, tidak ada peran sama sekali yang berpengaruh di dalan mewujudkan sesuatu, ia hanyalah saluran dan sambungan saja. Daya ikhtiar dan akal manusia, bagaimanapun besarnya tidak akan mampu mewujudkan sesuatu, tanpa izin dan kuasa Allah. Ikhtiar dan akal manusia hanya berfungsi sebagai sarana dan penyambung dari kuasa dan kehendak Allah yang Maha Mutlak. Karena itu, manusia harus menyadari akan kelemahan dan kekerdilannya di hadapan Allah Rabbul Izzati. Segala hidup dan kehidupan, bergantung mutlak kepada kuasa dan kehendak Allah, manusia tidak memiliki daya dan kuasa sedikit pun, kecuali atas kehendak dan kuasa Allah. Inilah yang dikatakan wahdatul maujud. Lagi

NII Dalam Timbangan Aqidah (1)

4 Komentar

Oleh: Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam

Bab III
NEGARA ISLAM INDONESIA (NII)* DALAM TIMBANGAN

Pasal l: Sekilas tentang NII dan Pemikiran Proklamatornya

Negara Islam Indonesia diproklamasikan Sekarmadji Marijan Kartosoewirjo pada tanggal 12 Syawal 1368 H/ 7 Agustus 1949 merupakan kelanjutan perjuangan yang telah dirintis Sarikat Dagang Islam (SDI) oleh KH Samanhudi (1905) yang dikembangkan menjadi Sarikat Islam (SI) oleh Haji Umar Said Cokroaminoto (1912). Selanjutnya pada tahun 1930 SI diubah namanya menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Semenjak SI dipimpin HOS Cokroaminoto, maksud dan tujuan SI semakinjelas sebagai sebuah organisasi Islam yang merupakan satu-satunya organisasi perjuangan yang menentang penjajah di Indonesia yang berskala nasional. Dan Kartosoewirjo merupakan kader militan Cokroaminoto. Demikian ajaran yang ditanamkan kepada jajaran NII (pimpinan maupun warganya). Ditambahkan pula bahwa satu-satunya kader Cokroaminoto yang tetap konsisiten mengikuti garis perjuangan yang ditetapkan sang guru adalah Kartosoewirjo.[1] Lain halnya Semaun, ia berubah haluan ke kiri, membentuk PKI (Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1920. Dan Soekarno pun tak sanggup konsisten, dan akhirnya pada tahun 1927 membentuk PNI (Partai Nasionalis Indonesia).[2] Lagi

Download Bedah Buku: N.I.I Dalam Timbangan ‘Aqidah (Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam) (Penting!!!)

18 Komentar

Salah satu yang menarik apabila memperhatikan sejarah Indonesia adalah begitu seringnya terjadi pemberontakan-pemberontakan, baik pada awal kemerdekaan sampai saat ini. Salah satu pemberontakan terlama yang ditumpas yaitu DI/TII yang bercita-cita mendirikan Negara Islam Indonesia (N.I.I) yang dipimpin oleh SM Kartosuwiryo.

Dan sampai saat ini N.I.I pun tetap ada walaupun pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan telah lama ditumpas dan pimpinannya pun, yaitu SM Kartosuwiryo telah tewas bersama pasukannya, ketika ditumpas oleh TNI. Berbagai cara secara gerakan bawah tanah dilakukan dalam upaya membangun kembali cita-cita tersebut. Lagi

%d blogger menyukai ini: