Download Audio: Al-Furqan baina Auliya Ar-Rahman wa Auliya Asy-Syaithan (Ustadz Aris Munandar,S.S)

2 Komentar

Berikut kami sampaikan rekaman dari pembahasan kitab fenomenal karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al-Furqan baina Auliya Ar-Rahman wa Auliya Asy-Syaithan (Pembeda antara Wali Allah dan Wali Syaithan).

Dikaji secara mendalam bersama Ustadz Aris Munandar, S.S. Reguk sejuknya ilmu dan manisnya faedah dalam pembahasan kitab ini.

Rekaman ini merupakan hadiah dari shahabat kami, Aditya Budiman As-Sigambali. Untuk tahap awal, kami sajikan satu file terlebih dahulu, files berikutnya menyusul, insya Allah. Lagi

Sarung “Balapan” Ala Salafy

4 Komentar

Oleh: Ustadz Aris Munandar

Beberapa tahun yang lewat saya pribadi pernah mendengar ada seorang yang mengatakan bahwa ahli sunnah di negeri kita memiliki ciri khas dalam berpakaian. Tidaklah dijumpai seorang yang shalat dengan memakai celana panjang dan sarung lalu sarungnya ‘balapan’ kecuali dia adalah seorang ahli sunah alias salafy. Demikian kurang lebih yang disampaikan. Setelah itu saya jumpai Syaikh Bakr Abu Zaid memiliki perkataan yang sejenis dengan perkataan orang tersebut.

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah mengatakan,

ومن زبدها هنا قصد اللابس التسنن بإرخاء السراويل و جعل الثوب أقصر منها بقليل فهذا تسنن لا أصل له في الشرع ولا أثارة من العلم تدل عليه

“Di antara penyimpangan yang dilakukan oleh para pemuda shahwah islamiyyah (kebangkitan Islam) dalam masalah pakaian adalah adanya orang yang berpakaian yang dengan sengaja membuat pakaiannya ‘balapan’ (yang satu lebih panjang dari pada yang lain) yaitu dengan memakai celana panjang dan jubah, lalu ujung jubah dibuat sedikit lebih tinggi dari pada ujung celana panjang. Pembiasaan semacam ini tidak ada dalilnya dalam syariat dan tidak ada keterangan ulama yang membenarkannya” (Hadd al Tsaub wa al Uzrah hal 26, cetakan Maktabah al Sunah Kairo cetakan pertama tahun 1421 H). Lagi

Download Audio: “Hukum Gambar” (Ustadz Aris Munandar)(Penting!)

5 Komentar

“Manusia yang paling keras siksanya di hari kiamat nanti yaitu orang-orang yang menggambar (makhluq bernyawa)”. (HR. Al-Bukhari)

‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata kepada Abul Hayyaj Al-Asadi: “Maukah aku mengutus-mu dengan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku? (Beliau mengatakan padaku):

“Janganlah engkau membiarkan gambar kecuali engkau hapus dan tidak pula kubur yang ditinggikan kecuali engkau ratakan!”

Lagi

Pelukan & Cium Tangan

Tinggalkan komentar

Ustadz Aris Munandar

قَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللهِ ، أَحَدُنَا يَلْقَى صَدِيقَهُ أَيَنْحَنِي لَهُ ؟ قَالَ : فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ . قَالَ : فَيَلْتَزِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ ؟ قَالَ : لاَ . قَالَ : فَيُصَافِحُهُ ؟ قَالَ : نَعَمْ إِنْ شَاءَ.

Ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah jika ada di antara kami yang berjumpa dengan temannya apakah boleh dia menundukkan badan kepadanya?” Jawab Nabi, “Tidak boleh.” “Apakah boleh memeluknya dan menciumnya”, tanya orang tersebut untuk kedua kalinya. Sekali lagi Nabi mengatakan, “Tidak boleh”. Berikutnya penanya kembali bertanya, “Apakah boleh menjabat tangannya?” Nabi bersabda, “Boleh, jika dia mau.” (HR Ahmad no. 13044 dari Anas bin Malik, dinilai hasan oleh Al Albani dalam Silsilah Shahihah, no. 160)

Lagi

%d blogger menyukai ini: