Oleh: Ustadz Abu Abdillah Ahmad Zain, Lc

Tahukah Anda bahwa tingkatan orang berpuasa yang paling rendah adalah hanya menahan makan dan minum, tetapi masih melakukan hal-hal yang diharamkan.

عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ قَالَ كَانَ أَصْحَابُنَا يَقُولُونَ أَهْوَنُ الصِّيَامِ تَرْكُ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ

Artinya: “Atha’ bin Saib (w: 136H) berkata: “Kawan-kawan kami (para tabi’ie muda) mengatakan: “Puasa paling rendah adalah meninggalkan makan dan minum. (Lihat kitab Al Mathalib Al ‘Aliyah karya Ibnu Hajar, 6/54).

Olehnya, Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata:

قَالَ جَابِرٌ : إذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُك وَبَصَرُك وَلِسَانُك عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَإِثْمَ ، وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ ، وَلْيَكُنْ عَلَيْك وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءً.

Artinya: “Berkata jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jika kamu berpuasa maka puasakanlah pendengaranmu, penglihatanmu, lisanmu dari dusta dan hal-hal yang diharamkan, janganlah menyakiti tetangga dan hendaknya kamu bersikap tenang dan wibawa pada hari puasamu dan jangan jadikan hari puasamu dan hari berbukamu sama.” (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 3/3).

Para pembaca budiman…

Di bawah ini disebutkan hal-hal yang seharusnya seorang yang berpuasa juga harus menahannya, disamping ia menahan makan dan minumnya serta seluruh yang membatalkan puasanya, agar puasa lebih bermakna dan berkwalitas serta berkah:

Dusta, saksi palsu dan yang semisalnya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ » .

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak mempunyai sebuah keperluanpun untuk meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari. Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Maksud dari “قول الزور” (Qaul Az zur): Perkataan dusta. Lihat kitab Fath Al Bari).

Perkatan dan perbuatan sia-sia: Ghibah, mengadu domba dan semisalnya.

Perkataan dan perbuatan yang menjurus kepada meningkatkan syahwat dan hawa nafsu seksual; berkata-kata keji, berbuat kotor, melihat wanita/lelaki tidak menutup aurat yang bukan mahramnya baik berupa media cetak atau elektronik.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ. فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقَلْ : إِنِّى صَائِمٌ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah puasa hanya menahan makan dan minum tetapi sesungguhnya puasa juga menahan dari perbuatan sia-sia dan Ar Rafats, dan jika ada seorang yang menghinamu atau berbuat bodoh kepadamu, maka katakanlah: “Aku sedang berpuasa”. (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al Baihaqi serta dishahihkan di dalam kitab Shahih At Targhib wa At Tarhib).

Maksud dari: “الرفث” (Ar Rafats): adalah perkataan jorok atau porno dan kadang disebutkan dengan arti bersetubuh dan segala bentuk mukaddimah, kadang juga disebutkan dengan arti seorang wanita dan segala yang berkaitan dengannya”. (Lihat kitab Fath Al Bari).

Perkataan dan perbuatan kasar: seperti berkelahi, bertengkar, berseteru dan yang semisalnya atau mencaci, mencela, menghina, melaknat, mengangkat suara karena bertengkar dan semisalnya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :«… وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ .

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “…Dan jika pada hari puasa salah seorang dari kalian, maka janganlah dia berbuat ar rafats dan yastkhab, dan jika seorang mencelanya atau memeranginya maka katakanlah: “Aku adalah seorang yang berpuasa”. (HR. Bukhari).

Maksud dari: “يصخب” (yashkhab): Mencela, mencaci maki, melaknat, mengangkat suara karena bertengkar dan semisalnya. (Lihat kitab Fath Al Bari).

Jaga lisanmu, jaga lisanmu, jaga lisanmu…maka kamu selamat!

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ صَمَتَ نَجَا ».

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang diam maka dia selamat”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 536).

Tulisan Ini semua bertujuan agar puasa kita tidak hanya mendapatkan lapar dan haus saja tanpa tidak mendapat pahala.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، ورُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ “.

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak orang yang berpuasa bagiannya dari puasanya hanyalah lapar dan haus saja dan berapa banyak orang yang bangun malam untuk beribadah bagiannya hanya bedagang”. (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ahmad serta di shahihkan di dalam kitab Shahih Al jami’, no. 4390).

Jika puasanya tidak juga berpuasa dari hal-hal yang diharamkan maka seperti orang yang mengerjakan amalan sunnah tapi meninggalkan amalan wajib.

قال ابن رجب رحمه الله: ((أن التقرّب إلى الله تعالى بترك المباحات لايكمل إلا بعد التقرب إليه بترك المحرمات،فمن ارتكب المحرّمات ثم تقرّب بترك المباحات كان بمثابة من يترك الفرائض ويتقرّب بالنوافل)) .

Artinya: “Berkata Ibnu Rajab Al Hambaly rahimahullah: “Bahwa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan meninggalkan hal-hal yang diperbolehkan tidak akan sempurna, melainkan setelah mendekatkan diri kepada-Nya dengan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, maka barangsiapa yang mengerjakan hal-hal yang diharamkan kemudian mendekatkan diri dengan meninggalkan hal-hal yang diperbolehkan adalah seperti seseorang yang meninggalkan perkara-perkara wajib dan mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan sunnah”.

Jadi… BERPUASALAH YANG BUKAN HANYA MENINGGALKAN MAKAN DAN MINUM. Wallahu Al Muwaffaiq.

Ahmad Zainuddin
Sabtu, 17 Ramadhan 1433H
Dammam, KSA.

Artikel: DakwahSunnah.com publish kembali oleh Moslemsunnah.Wordpress.com

Artikel Lainnya:

Ikut Pemerintah Dalam Penentuan Masuk dan Keluarnya Ramadhan (Bag 1)
Telah Datang Ramadhan…Bulan Penuh Berkah (Bag 2)
Hadits Tentang Mengkhususkan Bermaaf-maafan Menjelang Bulan Ramadhan (Bag 3)
Berharap Jangan Sampai Tidak Diampuni Allah Di Bulan Penuh Ampunan (Bag 4)
Puasa Yang Bukan Hanya Sekedar Menahan Makan dan Minum (Bag 5)
Aneh, Berpuasa Koq Tidak Bertakwa? (Bag 6)
Puasa Lebih Berkwalitas Dengan Amalan-amalan Inti Bulan Ramadhan (Bag 7)
Ramadhan Bulan Memperbanyak Bacaan Al-Quran (Bag 8.)
Semangat Memperbanyak Bacaan Al-Quran Di Bulan Ramadhan (Bag 9)
Carilah Lailatul Qadar (Bag 10)
Mengenali Keajaiban Waktu, Terutama di Bulan Ramadhan (Bag 11)
Indahnya Berhari Raya Sesuai dengan Sunnah (Bag 12, Selesai)