Oleh: Ustadz Abu Abdillah Ahmad Zain, Lc

Sudah seminggu kita berpuasa, penting rasanya memeriksa kembali puasa kita, apakah kita benar-benar berpuasa atau hanya sekedar menahan makan dan minum tapi tidak menahan dari yang perkara-perkara yang diharamkan.

Apakah Anda Berpuasa dari yang Halal tapi Masih Berbuka dari yang haram, maksudnya adalah: “Apakah kita hanya menahan dari yang halal, seperti makan, minum, syahwat dan lainnya AKAN TETAPI TIDAK MENAHAN DARI YANG DIHARAMKAN.”

PERLU DIKETAHUI DAN DIYAKINI, BAHWA ADA ORANG YANG BERPUASA HANYA DAPAT LAPAR DAN DAHAGA SAJA, DAN ITU PASTI!!!

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak seorang yang berpuasa tidak ada bagian dari puasanya melainkan lapar dan berapa banyak seorang yang bangun beribadah pada malam hari tidak ada bagiannya dari bangun malamnya kecuali begadang.” (HR. Ibnu Majah)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« رُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ ، وَرُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak seorang yang bangun (beribadah pada malam hari) bagiannya dari bangun malamnya (hanya) begadang dan berapa banyak seorang yang berpuasa bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga.”

BAHKAN ADA ORANG YANG MENDAPATI BULAN RAMADHAN TETAPI TIDAK DIAMPUNI, SUNGGUH SANGAT RUGI!!!

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم صَعِدَ الْمِنْبَرَ ، فَقَالَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ، فَقِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنَّكَ حِينَ صَعِدْتَ الْمِنْبَرَ قُلْتَ : آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ؟ قَالَ : إِنَّ جِبْرِيلَ آتَانِي فَقَالَ : مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغَفَرْ لَهُ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ آمِينَ فَقُلْتُ : آمِينَ ، وَمَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ ، أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُبِرَّهُمَا فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبْعَدَهُ اللَّهُ ، قُلْ : آمِينَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ ، وَمَنْ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَمَاتَ فَدَخَلَ النَّارَ فَأَبَعْدَهُ اللَّهُ , قُلْ : آمِينَ , قُلْتُ : آمِينَ.

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menaiki mimbar, lalu beliau bersabda: “Amin, amin, amin,” lalau beliau ditanya: “Sesungguhnya engkau ketika naik ke atas mimbar, mengucapkan: “Amin, amin, amin?”, beliau menjawab: “Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam telah mendatangiku, ia berkata: “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan dan tidak diampuni dosanya, akhirnya ia masuk ke dalam neraka dan dijauhkanAllah (dari surga), katakanlah: “Amin”, lalu akupun mengucapkan: “Amin”, Ia berkata: “Barangsiapa yang mendapati kedua orangtunya atau salah satunya tetapi ia tidak berbakti kepada keduanya, maka tidak diampuni dosanya, dan ia masuk ke dalam neraka dan dijauhkan Allah (dari surga), katakanlah: “Amin”, lalu akupun mengucapkan: “Amin”, ia berkata: “Barangsiapa yang disebutkan namamu didepanya dan ia tidak bershalawat atasmu lalu ia meninggal dan masuk ke dalam neraka dan dijauhkanAllah (dari surga), katakanlah: “Amin”, lalu akupun mengucapkan: “Amin.” (HR. Ibnu Hibba dan Ibnu Khuzaimah).

Jagalah puasa dari hal-hal yang mengurangi pahalanya!

قَالَ جَابِرٌ : إذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُك وَبَصَرُك وَلِسَانُك عَنِ الْكَذِبِ وَالْمَإِثْمَ ، وَدَعْ أَذَى الْخَادِمِ ، وَلْيَكُنْ عَلَيْك وَقَارٌ وَسَكِينَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ ، وَلاَ تَجْعَلْ يَوْمَ فِطْرِكَ وَيَوْمَ صِيَامِكَ سَوَاءً.

Artinya: “Berkata Jabir radhiyallahu ‘anhu: “Jika kamu berpuasa maka berpuasalah pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa, tinggalkan dari menyakiti tetangga dan hendaknya kamu penuh ketenangan dan wibawa pada hari puasamu, dan jangan samakan hari berbukamu (maksudnya: tidak berpuasa-pent) sama dengan hari puasamu.” (Atsar riwayat Ibnu Abi Syaibah, no. 8973).

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ لَيْسَ الصِّيَامُ مِنْ الشَّرَابِ وَالطَّعَامِ وَحْدَهُ; وَلَكِنَّهُ مِنْ الْكَذِبِ, وَالْبَاطِلِ وَاللَّغْوِ.

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bukanlah berpuasa dari makan dan minum saja, akan tetapi (berpuasa juga-pen) dari dusta, kebatilan dan perbuatan sia-sia.” (Lihat Al Muhalla, 4/305).

وَقَالَتْ حَفْصَةُ: «الصِّيَامُ جُنَّةٌ مَا لَمْ يَخْرِقْهَا صَاحِبُهَا، وَخَرْقُهَا الْغَيْبَةُ»

Artinya: “Berkata Hafshah bintu Sirin rahimahullah: “Puasa itu benteng selama tidak ada yang menghancurkannya an penghancurannya adalah ghibah.” (Atsar riwayat Abdurrazzaq di dalam kitab Al Muashannaf, no. 7895).

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah:

“الغيبة تضر بالصيام ، وقد حكي عن عائشة ، وبه قال الأوزاعي : إن الغيبة تفطِّر الصائم ، وتوجب عليه قضاء ذلك اليوم ، وأفرط ابن حزم فقال : يبطله كل معصية من متعمِّد لها ذاكر لصومه ، سواء كانت فعلاً ، أو قولاً ؛ لعموم قوله (فلا يرفث ولا يجهل) ؛ ولقوله صلى الله عليه وسلم : (من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه) ” والجمهور وإن حملوا النهى على التحريم الا إنهم خصوا الفطر بالأكل والشرب والجماع انتهى .

“Ghibah membahayakan puasa, telah dikisahkan dari Aisyah dan dengannya Al Auzaiy berpendapat: Sesungguhnya ghibah membatalkan puasa dan mewajibkan qadha pada hari itu, bahkan Ibnu Hazm terlalu berlebihan, ia berkata: “puasa batal dengan seluruh maksiat yang disengaja dan mengingat akan puasanya, baimk itu dengan perkataan atau perbuatan, berdasarkan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Maka janganlah (orang yang berpuasa) berbuat rafats dan semena-mena,” dan berdasarkan sabda shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, mka Allah tidak memiliki keperluan sehingga (orang tersebut) meninggalkan makanan dan minumannya.” Sedangkan Jumruh ulama meskipun mereka menganggap larangan itu adalah keharaman tetapi mereka mengkhususkan bahwa yang membatalkan puasa makan dan minum serta bersetubuh.” (Lihat kitab Fath Al Bary, 4/104).

عن مجاهد قال من أحب أن يسلم له صومه فليجتنب الغيبة والكذب

Mujahid berkata: “Barangsiapa yang ingin puasanya selamat, maka jauhilah ghibah dan dusta.” (Lihat kitab Az Zuhd, karya AL Hannad, no. 1203).

Cari tempat yang kondusif dan terjaga agar terjaga puasa Anda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّهُ كَانَ وَأَصْحَابُهُ، إِذَا صَامُوا قَعَدُوا فِي الْمَسْجِدِ وَقَالُوا: «نُطَهِّرُ صِيَامَنَا»

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan para sahabatnya jika mereka berpuasa mereka duduk di dalam masjid dan berkata: “Kita bersihkan puasa kita.” (Atsar riwayat Abu Nu’aim Al Ashbahany di dalam kitab hilyat Al Auliya, 1/382).

طَلِيقِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ قَالَ أَبُو ذَرٍّ: إذَا صُمْت فَتَحَفَّظْ مَا اسْتَطَعْت, فَكَانَ طَلِيقٌ إذَا كَانَ يَوْمُ صِيَامِهِ دَخَلَ فَلَمْ يَخْرُجْ إلاَّ إلَى صَلاَةٍ.

Artinya: “Thaliq bin Qais berkata: “Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu berkata: “Jika kamu berpuasa maka jagalah semampumu,” dan akhirnya Thaliq jika pada hari puasanya ia masuk (rumah-pen) dan tidak keluar kecuali untuk mengerjakan shalat.” (Lihat kitab Al Muhalla, 6/179).

Tujuan tulisan ini adalah mengingatkan diri pribadi dan kaum muslim penjagaan terhadap kwalitas puasa, sehingga bukan hanya sekedar menahan makan dan minum tetapi masih mengerjakan hal yang diharamkan, karena itu adalah serendah-rendahnya puasa yang mengakibatkan dapat ganjaran dari puasanya HANYA LAPAR DAN DAHAGA SAJA.

عن مَيْمُون بن مهران أنه يَقُولُ : إنَّ أَهْوَنَ الصَّوْمِ تَرْكُ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ.

Artinya: “Sesungguhnya puasa yang paling rendah adalah (yang hanya) meninggalkan makan dan minum.” (Atsar riwayatIbnu Abi Syaibah di dalam kitab Al Mushannaf, no. 8976).

Terakhir…

DAN SAYA YAKIN ANDA TIDAK INGIN HANYA DAPAT LAPAR DAN DAHAGA SAJA BUKAN?!? Semoga bermanfaat.

Ahmad Zainuddin
Jumat, 8 Ramadhan 1433H
Dammam, KSA.

Artikel: DakwahSunnah.com publish kembali oleh Moslemsunnah.Wordpress.com

Artikel Lainnya:

Ikut Pemerintah Dalam Penentuan Masuk dan Keluarnya Ramadhan (Bag 1)
Telah Datang Ramadhan…Bulan Penuh Berkah (Bag 2)
Hadits Tentang Mengkhususkan Bermaaf-maafan Menjelang Bulan Ramadhan (Bag 3)
Berharap Jangan Sampai Tidak Diampuni Allah Di Bulan Penuh Ampunan (Bag 4)
Puasa Yang Bukan Hanya Sekedar Menahan Makan dan Minum (Bag 5)
Aneh, Berpuasa Koq Tidak Bertakwa? (Bag 6)
Puasa Lebih Berkwalitas Dengan Amalan-amalan Inti Bulan Ramadhan (Bag 7)
Ramadhan Bulan Memperbanyak Bacaan Al-Quran (Bag 8.)
Semangat Memperbanyak Bacaan Al-Quran Di Bulan Ramadhan (Bag 9)
Carilah Lailatul Qadar (Bag 10)
Mengenali Keajaiban Waktu, Terutama di Bulan Ramadhan (Bag 11)
Indahnya Berhari Raya Sesuai dengan Sunnah (Bag 12, Selesai)