MYANMAR – Belum kering air mata akibat serangan brutal dari etnis Buddha Arakan atau Rakhine, belum sembuh luka yang mereka derita, Muslim minoritas di Myanmar bertambah menderita akibat krisis pangan melanda.

Krisis kemanusiaan sedang terjadi di barat Myanmar, ribuan Muslim kekurangan pangan menyusul serangan-serangan mematikan dari penganut Buddha etnis Rakhine.

“Ada sekitar 20.000 pengungsi di Sittwe. Kebanyakan dari mereka berasal dari desa-desa dimana orang-orang dalam ketakutan kekerasan,” kata senator daerah Rakhine Aung Myat Kyaw kepada Reuters pada Kamis (14/6/2012).

“Mereka membutuhkan makanan dan dikarenakan hujan deras, ada kekhawatiran tentang kesehatan parapengungsi dan apakah mereka memiliki tempat tinggal yang cukup,” tambahnya.

Ratusan Muslim telah gugur (syahid Insya Allah) dan terluka akibat serangan dari etnis Buddha Arakan, ribuan rumah mereka telah dibakar sehingga mereka yang selamat harus mengungsi dan juga karena ketakutan akan serangan selanjutnya yang menargetkan mereka.

Dalam situasi demikian parah, ironisnya PBB dan sebuah grup bantuan medis mengatakan bahwa pekan ini mereka menarik staf mereka keluar dari daerah tersebut karena kerusuhan.

Delegasi khusus PBB untuk Myanmar, Vijar Nambiar, mengunjungi daerah itu pada hari Rabu (13/6).

Masyarakat internasional, terkhusus kaum Muslimin, mulai bangkit kesadarannya atas kondisi Muslim di Myanmar setelah tragedi mengejutkan, serangan terhadap bis yang membawa kaum Muslimin, beberapa disinyalir adalah para Da’i, oleh warga etnis Buddha Arakan yang menewaskan 10 Muslim. Kemudian serangankaian serangan terus berlanjut terhadap Muslim minoritas di daerah tersebut. Belum lagi baru-baru ini dilaporkan 10 Muslimah yang diperkosa oleh tentara Myanmar (Burma).

Kaum Muslimin dalam bahaya

Meskipun terdengar kabar bahwa kekerasan telah mereda, namun hal itu mungkin tetap membuat kaum Muslimin takut untuk kembali ke tempat tinggal mereka. Mereka masih dalam bahaya.

“Mereka khawatir atas hidup mereka,” kata Shwe Maung, seorang Muslim yang memimpin Persatuan Solidaritas dan Partai Pembangunan, kepada Reuters.

“Masih banyak warga Rohingya di dalam pusat kota Sittwe dan mereka takut diserang.”

Etnis Buddha Arakan menganggap kaum Muslimin Rohingya adalah ‘teroris penjajah’ atau ‘imigran ilegal teroris’, mereka tidak ingin Muslim tinggal di dekat mereka dan menanggap berkumpulnya etnis Muslim Rohingya bermaksud untuk menyerang etnis Rakhine. Dan etnis Rakhine sendiri mengakui telah membakar rumah-rumah Muslim Rohingya, “kami membakar rumah-rumah Rohingya karena mereka tinggal di dekat desa kami dan mereka berkumpul pada malam hari dan berusaha menyerang kami,” kata pria etnis Rakhine kepada Reuters pada (11/6).

Sempat ada laporan bahwa pasukan keamanan setempat membantu menghancurkan rumah-rumah Muslim. ”Pasukan keamanan membantu mereka menghancurkan rumah-rumah Muslim,” kata seorang pria, seorang pensiunan pejabat pemerintah yang juga tidak mau disebutkan namanya, melalui telepon dari rumahnya di dekat bandara Sittwe.

Muslim tercatat hanya lima persen dari lebih 53 juta penduduk Myanmar. Kelompok terbesar Muslim Myanmar adalah dari minoritas etnis-Bengali, umumnya dikenal sebagai Rohingya, terutama yang tinggal di negara bagian barat Rakhine, dimana mayoritasnya adalah penganut Buddha dari etnis Rakhine. Muslim di Rakhine, adalah salah satu minoritas di dunia yang paling teraniaya. (siraaj/arrahmah.com)

Kampanye Islamophobia dan Rasisme terhadap Muslim

Kampanye intensif terhadap Muslim Myanmar, dengan istilah yang dikenal sebagai “Kalas”, dimulai sejak November 2011 melalui jejaring sosial Facebook. Ribuan orang Buddha (baik etnis Rakhine atau non-Rakhine) telah menyebarkan pesan-pesan kebencian dalam bahasa yang sangat menghujat Islam dan pemeluknya. Meskipun awalnya mereka tampak menargetkan orang-orang Rohingya saja, namun kemudian mereka langsung menyerang kaum Muslimin Myanmar dan norma-norma Islam.

Kampanye Islamophobia tersebut bukan hanya dilakukan oleh orang-orang Burma lokal, tetapi juga mereka yang pro-Demokrasi dan para aktivis HAM dibawah perlindungan suaka di AS, Kanada, Eropa, Australia dan Thailand.

Karena kelalaian pemerintah, atas kondisi tersebut, para politisi etnis Rakhine secara terbuka dan dengan keras melawan etnis Rohingya. Oleh karena itu, mereka yang menyebut diri para patriot Buddha, mereka terus menyebarkan informasi kebencian.

Hampir setiap hari dalam beberapa bulan terakhit, jutaan pesan kebencian terhadap Muslim tersebar di Facebook dan e-mail.

Muslim minoritas Myanmar telah berusaha menghentikan kampanye Islamophobia dengan mendekati media-media mainstream Burma. Tetapi mereka sepenuhnya dan sengaja menolak untuk membantu, serta tidak memberitakan tentang kekerasan terhadap Muslim. Contohnya, sebagian besar media besar benar-benar diam pada saat penghancuran dua Masjid dan tindakan teroris terhadap rumah-rumah kaum Muslimin di utara dan pusat Burma pada April 2012 lalu.

Selain itu, sebelum pembunuhan pada hari Ahad tersebut, sebuah peristiwa pada (29/5), dikabarkan bawa seorang wanita (26) diperkosa dan dibunuh oleh tiga warga lokal yang diduga Muslim.

Sentimen anti-Muslim meningkat, media lokal Arakan, Narinjara memanfaatkan situasi dengan membuat berita provokatif. Mengaitkan insiden pemerkosaan-pembunuhan wanita itu dengan agama Islam, sehingga mendorong kemarahan warga lokal. The Irrawaddy, salah satu media paling terkenal di negara tersebut, melaporkan hal yang sama.

Hal tersebut, membuat kampanye provokasi terhadap Muslim menyebar di Facebook. Mempublikasikan berita provokatif yaitu bayaran sebesar 300 USD bagi siapa yang dapat melakukan serangan sex terhadap Muslimah, dan 500 USD bagi siapa yang dapat membunuh Muslimah. (siraaj/arrahmah.com)

Artikel: Nahimunkar.com publish kembali oleh Moslemsunnah.Wordpress.com