Tanya Jawab Kehalalan dan Keamanan Vaksin Bersama Dr. Soedjatmiko (Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia)

48 Komentar


Saat ini beredar di masyarakat berbagai pertanyaan dan keraguan terkait dengan kehalalan vaksin. Untuk menjawab semua itu, Sekretaris Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) Dr. Soedjatmiko akan menjawabnya lewat tanya jawab sebagai berikut:

Bagaimana cara mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian akibat penyakit menular pada bayi dan balita ?

Pencegahan umum: berikan ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang , kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan.

Pencegahan khusus: berikan imunisasi lengkap, karena dalam waktu 4 – 6 minggu setelah imunisasi akan timbul antibodi spesifik yang efektif mencegah penularan penyakit, sehingga tidak mudah tertular, tidak sakit berat, tidak menularkan kepada bayi dan anak lain, sehingga tidak terjadi wabah dan tidak terjadi banyak kematian.

Benarkah imunisasi aman untuk bayi dan balita ?

Benar. Saat ini 194 negara terus melakukan vaksinasi untuk bayi dan balita. Badan resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin di negara tersebut umumnya terdiri atas para dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, dan biostatistika. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang vaksinasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% .

Mengapa ada “ilmuwan” menyatakan bahwa imunisasi berbahaya ?

Tidak benar imunisasi berbahaya. “Ilmuwan” yang sering dikutip di buku, tabloid, milis ternyata bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, wartawan. sehingga mereka tidak mengerti betul tentang vaksin. Sebagian besar mereka bekerja pada era tahun 1950- 1960, sehingga sumber datanya juga sangat kuno.

Benarkah “ilmuwan kuno” yang sering dikutip buku, tabloid, milis, ternyata bukan ahli vaksin ?

Benar, mereka semua bukan ahli vaksin. Contoh : Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog), Dr. William Hay (kolumnis), Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter, PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller, (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950) , Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum) Dr. WB Clarke (ahli kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959).

Benarkah dokter Wakefield “ahli vaksin”, membuktikan MMR menyebabkan autism ?

Tidak benar. Wakefield juga bukan ahli vaksin, dia dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya dengan sample 18. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di beberapa negara menyimpulkan MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011.

Benarkah di semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ?

Tidak benar. Isu itu karena “ilmuwan” tersebut di atas tidak mengerti isi vaksin, manfaat, dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin. Contoh: jumlah total etil merkuri yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin sekitar 2 mcg/kgbb/minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih banyak (159 mcg/kgbb/minggu). Oleh karena itu vaksin mengandung merkuri dengan dosis yang sangat rendah dan dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya.

Benarkah isu bahwa “semua zat kimia” berbahaya bagi bayi ?

Tidak benar. Isu itu beredar karena penulis buku, tabloid, milis, tidak pernah belajar ilmu kimia. Oksigen, air, nasi, buah, sayur, jahe, kunyit, lengkuas, semua tersusun dari zat-zat kimia. Buktinya oksigen rumus kimianya O2, air H2O, garam NaCl. Buah dan sayur terdiri atas serat selulosa, fruktosa, vitamin, mineral, dll. Telur terdiri dari protein, asam amino, mineral. Itu semua zat kimia, karena ada rumus kimianya. Jadi zat-zat kimia umumnya justru sangat dibutuhkan untuk manusia asal bukan zat yang berbahaya atau dalam takaran yang aman.

Benarkah vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi, manusia yang sengaja digugurkan?

Tidak benar. Isu itu bersumber dari “ilmuwan” 50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Teknologi pembuatan vaksin berkembang sangat pesat. Sekarang tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi, atau manusia.

Benarkah vaksin mengandung lemak babi ?

Tidak benar. Hanya sebagian kecil dari vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio dan meningitis. Pada vaksin meningitis, pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15 – 20 tahun lalu, ketika panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi kemudian induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu maka Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contohnya vaksin meningokokus (meningitis) haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus.

Benarkah vaksin yang dipakai di Indonesia buatan Amerika ?

Tidak benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma Bandung, yang merupakan BUMN, dengan 98,6% karyawannya adalah Muslim. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin di BPOM dan WHO. Vaksin-vaksin tersebut juga diekspor ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, seperti Iran dan Mesir.

Benarkah program imunisasi hanya di negara Muslim dan miskin agar menjadi bangsa yang lemah?

Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-Muslim. Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka mereka juga akan lemah, karena mereka juga melakukan program imunisasi, bahkan lebih dulu dengan jenis vaksin lebih banyak. Kenyataanya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggi justru lebih kuat. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan.

Benarkah isu di buku, tabloid dan milis bahwa di Amerika banyak kematian bayi akibat vaksin ?

Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA Amerika tahun 1991-1994, yang mencatat 38.787 laporan kejadian ikutan pasca imunisasi, oleh penulis angka tersebut ditafsirkan sebagai angka kematian bayi 1 – 3 bulan. Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan vaksinasi. Faktanya Amerika tidak pernah meghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Angka tersebut adalah semua keluhan nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah yang memang rutin harus dicatat kalau ada laporan masuk. Kalau ada 38.787 laporan dari 4,5 juta bayi berarti KIPI hanya 0,9 %.

Benarkah isu bahwa banyak bayi balita meninggal pada imunisasi masal campak di Indonesia ?

Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas/Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi. Setelah dianalisis dari keterangan keluarga, dokter yang merawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan fisik, dan laboratorium, ternyata balita tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian balita tersebut bukan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak.

Demam, bengkak, merah setelah imunisasi membuktikan bahwa vaksin berbahaya?

Tidak berbahaya. Demam, merah, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu bisa konsul ke petugas kesehatan terdekat.

Benarkah vaksin Program Imunisasi di Indonesia juga dipakai oleh 36 negara Muslim?

Benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam.

Benarkah isu di tabloid, milis, bahwa program imunisasi gagal?

Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50 – 150 tahun lalu) hanya dari 1 – 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda dengan hasil penelitian terbaru, karena vaksinnya sangat berbeda.

Contoh :

– Isu vaksin cacar variola gagal, berdasarkan data yang sangat kuno, di Inggris tahun 1867 – 1880 dan Jepang tahun 1872-1892. Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar di seluruh dunia sejak tahun 1980 dunia bebas cacar variola.

– Isu vaksin difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sekarang: vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri hingga 95 %.

– Isu pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986

– Isu vaksin campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika

Benarkah program imunisasi gagal, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ?

Tidak benar program imunisasi gagal. Perlindungan vaksin memang tidak 100%. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Bayi balita yang belum diimunisasi lengkap bila tertular penyakit tersebut bisa sakit berat, cacat atau meninggal.

Benarkah imunisasi bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat dan kematian bayi dan balita?

Benar. Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna. Oleh karena itu saat ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Semua negara berusaha meningkatkan cakupan agar lebih dari 90 %. Di Indonesia, setelah wabah polio 2005-2006 karena banyak bayi yang tidak diimunisasi polio, maka menyebabkan 305 anak lumpuh permanen. Setelah digencarkan imunisasi polio, sampai saat ini tidak ada lagi kasus polio baru.

Mengapa di Indonesia ada buku, tabloid, milis, yang menyebarkan isu bahwa vaksin berbahaya, tidak effektif, tidak dilakukan di negara maju ?

Karena di Indonesia ada orang-orang yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari “ilmuwan” tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasar data-data 30 – 40 tahun lalu (1970 – 1980an) atau hanya dari 1 sumber yang tidak kuat. Atau dia mengutip Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011 penelitian Wakefield dinyatakan salah alias bohong. Ia hanya berdasar kepada 1 – 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar logika biasa.

Bagaimana orangtua harus bersikap terhadap isu-isu tersebut?

Sebaiknya semua bayi dan balita diimunisasi secara lengkap. Saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian pada bayi dan balita. Terbukti 194 negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %.

Badan penelitian di berbagai negara membuktikan kalau semakin banyak bayi balita tidak diimunisasi akan terjadi wabah, sakit berat, cacat atau mati. Hal ini telah terbukti di Indonesia, di mana wabah polio merebak pada tahun 2005-2006 (305 anak lumpuh permanen), wabah campak 2009 – 2010 (5.818 anak dirawat di RS, meninggal 16), dan wabah difteri 2010-2011 (816 anak di rawat di RS, 56 meninggal).

Bisakah ASI, gizi, dan suplemen herbal menggantikan imunisasi ?

Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bisa, karena kekebalan yang dibentuk sangatlah berbeda. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan, hanya memperkuat pertahanan tubuh secara umum, karena tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Kalau jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau bahkan mati.

Imunisasi merangsang pembentukan antibodi dan kekebalan seluler yang spesifik terhadap kuman-kuman atau racun kuman tertentu, sehingga bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya.

Bolehkah selain diberikan imunisasi, ditambah dengan suplemen gizi dan herbal?

Boleh. Selain diberi imunisasi, bayi harus diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus diberikan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.

Benarkah bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap rawan tertular penyakit berbahaya ?

Benar. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.

Benarkah wabah akan terjadi bila banyak bayi dan balita tidak diimunisasi ?

Benar. Itu sudah terbukti di beberapa negara Asia, Afrika dan di Indonesia.

Contoh: wabah polio 2005-2006 di Sukabumi karena banyak bayi balita tidak diimunisasi polio, dalam hitungan beberapa bulan, virus polio menyebar cepat ke Banten, Lampung, Madura, menyebabkan 305 anak lumpuh permanen.

Wabah campak di Jawa Tengah dan Jawa Barat 2010-2011 mengakibatkan 5.818 anak dirawat di rumah sakit dan 16 anak di antaranya meninggal dunia.

Wabah difteri dari Jawa Timur 2009 – 2011 menyebar ke Kalimantan Timur, Selatan, Tengah, Barat, DKI Jakarta, menyebabkan 816 anak harus di rawat di rumah sakit, 54 meninggal.

*Penulis adalah :

1. Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia 2002-2008
2. Sekretaris Satgas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI).
3. Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang – Pediatri Sosial, Magister Sains Psikologi Perkembangan.

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Artikel: AntaraNews.com publish kembali oleh Moslemsunnah.Wordpress.com

48 Komentar (+add yours?)

  1. doni kusuma
    Jan 18, 2012 @ 14:49:43

    benarkah dokter2 dididik dengan keilmuan yang mendukung pemerintahan supaya tetap berkuasa selamalamanya?
    contohnya seperti 911 yg data resmi dari pemerintah sangat bertolak belakang dengan data dari para saksi mata yang berada di lokasi

  2. soni suratman
    Jan 18, 2012 @ 14:53:46

    bukti lain dari adanya kepntingan adalah obat2an herbal yang terbukti bisa menyembuhkan total di ragukan dan dokter menggunakan metode coba2 yang menyebabkan pasien menderita sepanjang hidupnya….
    tentusaja didukung dgn teori2 yang menguntungkan pihak kedokteran sehingga pasien setuju dijadikan percobaan.
    kalau mau jujur banyak kasus dimasyarakat yg mengobatii dengan herbal dan sembuh, setelah dijadikan kelinci percobaan dgn obat2 selama bertahun2 dalam penderitaan…

  3. abu hasna
    Jan 20, 2012 @ 10:08:21

    assalaamu’alaikum.
    afwan, tolong coba tanyakan ke pak jatmiko… apakah pak jatmiko berani menjamin bahan yang digunakan untuk membuat vaksin itu halal… karena ana selama ini belum mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang bahan yang digunakan untuk membuat vaksin tersebut….

  4. abu hasna
    Jan 20, 2012 @ 10:12:58

    ana pernah membaca buku bahwa dalam vaksin imunisasi tersebut ada unsur zat alumunium… sedangkan dalam tubuh kita tidak ada unsur tersebut…bagaimana menurut pak jatmiko efeknya zat tersebut terhadap tubuh…kita.

  5. abu adam alfadani
    Jan 21, 2012 @ 01:15:57

    WALLOHI,ana kenal dengan beberapa orang yg menyaksikan langsung anak2 teman mereka MENINGGAL SETELAH DI IMUNISASI,bahkan ada DR yang anaknya meninggal akibat diimunisasi,dan sekarang beliau sedang berkampanye anti imunisasi,dan ana punya sepupu di Australia,katanya HANYA ORANG INDONESIA YANG DIIMUNISASI SEDANGKAN PENDUDUK ASLI AUSTRALI TIDAK DIIMUNISASI

    apakah dokter ini beraqidah dan manhaj salaf?apa anta yang menyebarkan artikel ini berani menjamin kehalalan IMUNISASI?

    Admin:

    Bismillah, untuk menjamin kehalalannya saya awwam, oleh karenanya saya sandarkan ketidaktahuan saya kepada firman Allah Ta’ala yang artinya: Maka bertanyalah kepada Ahli Dzikr (ahli ilmu) jika kamu tidak mengetahui… (An-Nahl: 43)

    Salah satu faidah ayat ini, jika kita tidak tahu masalah apapun -baik perkara dunia, terlebih perkara akhirat – maka kita bertanya kepada ahli-nya sebagaimana yang diperintahkan allah kepada kita.

    Sebagaimana di jelaskan diatas, bahwa MUI pun memebolehkannya selama belum ada penggantinya (“untuk vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio dan meningitis, yang sesudahnya induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi“).

    Wallahu a’lam.

  6. abu_hasan
    Jan 21, 2012 @ 22:39:06

    assalamua’laikum.
    kalau sesuatu zat yang semula halal karena sesuatu proses bisa berubah mjd haram…. contoh buah anggur yg tadinya halal tapi karena proses fermentasi berubah jadi minuman yg mengandung alkohol (mjd haram)… apakah daging babi, bahan/media untuk membuat vaksin (tulang monyet) atau sejenisnya yg tadinya haram, krn suatu proses bisa berubah jadi halal…. ingat segala sesuatu di dunia ini pasti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti…tsummalatus alunna yaumaidin ‘aninna’im….

    Admin:
    Wa’alaikumussalam, Sekali lagi saya katakan diatas, ” Maka bertanyalah kepada Ahli Dzikr (ahlinya) jika kamu tidak mengetahui… (An-Nahl: 43).

    Saya nukilkan perkataan Drs. Iskandar, Apt., M.M (Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT. Bio Farma) terkait masih digunakannya enzim tripsin babi dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV).

    Hidayatullah. com — …Namun Iskandar menolak vaksinnya dikatakan haram. “Saat ini yang kami pegang adalah surat dari MUI tentang kehalalan produk yang kita produksi untuk vaksin polio,” ujar Iskandar. Iskandar mengibaratkan kehalalan vaksinnya dengan air yang diproduksi oleh perusahaan air minum (PAM).

    Kata Iskandar, air PAM dibuat dari air sungai yang mengandung berbagai macam kotoran dan najis, namun menjadi bersih dan halal setelah diproses. Iskandar melanjutkan, dalam proses pembuatan vaksin, tripsin babi hanya dipakai sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisah sel/protein) .

    Pada hasil akhirnya (vaksin), enzim tripsin yang merupakan unsur turunan dari pankreas babi ini tidak terdeteksi lagi. Enzim ini akan mengalami proses pencucian, pemurnian, dan penyaringan.

    Iskandar mengatakan, saat ini PT. Bio Farma sedang melakukan riset untuk mengganti enzim berbahan binatang dengan bahan yang berasal dari tanaman. Di antaranya mengusahakan enzim yang diolah dari kacang kedelai.
    “Ketika kita melakukan riset tidak bisa selesai dalam waktu setahun. Ini sudah setahun berjalan, mudah-mudahan 2 – 3 tahun selesai,” ujar Iskandar. Selesai

    Berikut juga saya sampaikan kepada anda Fatwa Asy-Syaikh Bin Baz tentang Imunisasi, semoga mencerahkan:

    HUKUM IMUNISASI DALAM ISLAM
    Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz

    Pertanyaan.
    Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz ditanya : Bagaimana hukum berobat dengan imunisasi (mencegah sebelum tertimpa musibah) ?

    Jawaban
    La ba’sa (tidak masalah) berobat dengan cara seperti itu jika dikhawatirkan tertimpa penyakit karena adanya wabah* atau sebab-sebab lainnya. Juga tidak masalah untuk menggunakan obat untuk menolak atau menghindari wabah yang dikhawatirkan.

    Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih, artinya : “Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun”. Ini termasuk tindakan menghindari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga jika dikhawatirkan timbulnya suatu penyakit dan dilakukan immunisasi untuk melawan penyakit yang muncul di suatu tempat atau di mana saja, maka hal itu tidak masalah, karena hal itu termasuk tindakan pencegahan. Sebagaimana penyakit yang datang diobati, demikian juga penyakit yang dikhawatirkan kemunculannya.

    Tapi tidak boleh berobat dengan menggunakan jimat-jimat untuk menghindari penyakit, jin atau pengaruh mata yang jahat. Karena Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari perbuatan itu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan bahwa hal itu termasuk syirik kecil, sehingga sudah kewajiban kita untuk harus menghindarinya.

    [Fatawa Syaikh Abdullah bin Baaz**. Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427/2006M. Dikutip dari kitab Al-Fatawa Al-Muta’alliqah bi Ath-Thibbi wa Ahkami Al-Mardha, hal. 203. Darul Muayyad, Riyadh]

    Sumber: Milis as-Sunnah

    Wallahu a’lam

  7. abu_hasan
    Jan 21, 2012 @ 22:46:02

    sesuatu hal yang disampaikan dari seorang muslim saja kita harus tabayyun apalagi dari orang kafir….. BACA BUKU “IMUNISASI ANAK CARA ISLAM” PENULIS AHMAD SYARIFUDDIN TERBITAN TIGA SATU TIGA………

    Admin:
    Yang antum katakan KAFIR disini siapa…??? narasumber diatas Muslim semua

    Allahu akbar…

  8. abu_hasan
    Jan 21, 2012 @ 22:51:54

    Apakah semua fatwa MUI harus kita turuti dan lakukan seperti bahwa wajib hukumnya mencoblos dalam PEMILU..?

    Admin:
    Pertanyaan antum jangan melebar kemana-mana, fokus pada masalah ini dulu.

  9. zaky rais
    Jan 22, 2012 @ 22:29:58

    1) maaf sblmnya… saya liat kok sprtinya banyak pertanyaan yg sbenernya sdh terjawab oleh artikel diatas. ada baiknya gimana kalo sblm bertanya kita baca ulang artikel diatas…. setuju…?!

    2) kok ga ada yg menanyakan status -apakah muslim atau kafir- mereka yg mengharamkan imunisasi seperti “Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog), Dr. William Hay (kolumnis), Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter, PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller, (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950) , Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum) Dr. WB Clarke (ahli kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959).” ?

    3) @abu_hasan mngkin ini sdikit membantu ada tulisan dari dokter jg muslim jg sbagaimana tulisannya (lihat di akhir artikel) “Muraja’ah:
    1. Ustadz Aris Munandar, SS. MA.
    Guru agama kami, kami banyak mengambil ilmu agama dari beliau
    2. Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, ST.
    Senior dan guru bahasa Arab kami, sering membimbing dan menyemangati kami dalam menuntut ilmu agama, beliau adalah mahasiswa Jami’ah Malik Su’ud Riyadh KSA (Master of Chemical Engineering), rutin mengikuti kajian harian Syaikh Sholeh Al Fauzan dan kajian pekanan Syaikh Sa’ad Asy Syatsri.” ini linknya http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/pro-kontra-hukum-imunisasi-dan-vaksinasi.html/comment-page-2#comments

    barakallhu fiikum

  10. Bunyana
    Jan 30, 2012 @ 11:20:37

    “Imunisasi merangsang pembentukan antibodi dan kekebalan seluler yang spesifik terhadap kuman-kuman atau racun kuman tertentu, sehingga bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya.”

    Saya tidak setuju dengan kutipan teks di atas…

    Kalau memang imunisasi mampu mencegah penularan penyakit yang berbahaya kenapa kasus penularan penyakit masih ada?????? bukankah mereka yang sekarang tertular waktu kecilnya sudah di vaksin????

    kalau bisa sehat tanpa vaksin kenapa harus vaksin? apakah ada yang menjamin dengan vaksin 100 % tidak akan kena/tertular penyakit?

    Kalau tidak ada keuntungan dagang yang menggiurkan dari vaksin kenapa vaksin diwajibkan? yang lebih aneh lagi menjadi syarat wajib bagi orang yang mau menikah!!!! maupun yang naik haji!!! T_T

    Kalau memang tidak ada keuntungan ya jangan diwajibkan…tiap tubuh (tiap orang) punya hak untuk memilih mau di vaksin atau tidak!!! kenapa kita dipaksa untuk vaksin???? kenapa dipaksa??? ini tubuh saya hak-hak saya mau vaksin atau tidak? silahkan anda jaga tubuh anda sendiri jangan paksa orang lain!!!! pake diwajibkan segala!!!

    keadaan sekarang bukan BUKAN DARURAT!!! karena tanpa vaksin pun ada yang sehat!!! karena obat pencegah penyakit atau obat untuk meningkatkan kekebalan tubuh yang halal ada!!! klo ada yang halal kenapa pilih yang subhat atau haram??? kalo ada yang halal gak boleh pilih yang subhat atau haram!!! kalo ada yang halal berarti tidak dalam keadaan darurat!!!

  11. umarhanif
    Jan 31, 2012 @ 20:13:35

    mengapa sih tidak back to tibbun nabawi saja..yg sudah jelas2 halal dan toyyib.

  12. Misbahuddin
    Feb 01, 2012 @ 14:49:20

    semua ada solusinya dan islam telah mengajarkan Thibbun Nabawi sbg solusi kesehatan manusia. akhir2 ini yg lebih maju memang Kedokteran Barat krn belum banyak yg mengerti secara mendalam tntg Thibbun nabawi itu (trmasuk saya). tetapi skrg Thibbun Nabawi berkembang pesat utamanya Bekam dan Herba serta ruqyah. dan pd dasarnya Kedokteran Barat jg berawal dri Thibbun nabawi, mgkn krn barat lebih banyak yg mengembangkan dan memodifikasinya jd seolah2 baratlah yg memulai.

    kita seorg muslim mestinya lebih mengembangkan Thibbun Nabawi dri pd Kedokteran Barat,, mengapa?? krn Thibbun Nabawi Allah sendiri yg menganjurkan melalui Nabi-Nya. Alangkah lebih baiknya para Praktisi Medis barat “Berpikir Medis dan Bertindak herbalist”.

    yg saya kurang setuju pd Medis Barat adlh solusi yg di pake. Apa harus mendahulukan Kimia sintetik?? ok,,kalo kimia Sintetik itu Halal, saya setuju itu d pake tp saat terpaksa2 banget, gak ada sama sekali solusi dr pd itu. Allah menciptakan sesuatu yg berkesesuaian. dan manusia sesuai fitrahnya kpd yg alami bukan pd yg Sintetik (Buatan).

    kita bisa perhatikan tiap tahun lulusan kedokteran dgn berbagai macam mata kuliah dari anatomi sampe masalah keperawatan meluluskan ribuan paramedis tetapi sangat kontras sekali dgn keadaan di masyarakat malah banyak org yg sakit dan rumah sakit_pun tambah banyak. jika berpikir logis dan sederhana hal ini sebenarnya gak perlu terjadi. jd,gak salah jika banyak yg berpikir bahwa konsep Kedokteran Barat hanyalah bisnis belaka.

    memang penyebab sakit itu banyak macamnya dan yg paling banyak krn pengaruh gaya hidup yg tergantung pd kimia sintetik, mulai dri makanan,polusi hingga obat-2an sintetik. Sesuatu yg baik aja kalo berlebihan akan berefek buruk. pusing sedikit paracetamol atau apalah yg meredakan gejala, padahal pusing merupakan signal tubuh yg meminta tubuh utk di jaga krn ada aktifitas yg berlebihan, jika kita paham herba org2 akan mengganti paracetamolnya bisa dgn bawang putih atau mengkudu dan tentunya yg sesuai dgn penyebab timbulnya gejala mgkn krn masalah angin atau asam lambung yg over. dgn diagnosa dan pemberian herba yg tepat tentunya akan lebih baik dan insya Allah efeknya pun cepat tp ingat segala sesuatunya butuh proses dan pastinya Bidznillah.

    Manusia telah Allah berikan akal utk berpikir mana yg lebih baik. Thibbun Nabawy yg sesuai ajaran Islam atau Kedokteran Barat yg membuat solusi instant khususnya dlm penyembuhan.

    Imunisasi dan Vaksinasi juga suatu keharusan bagi setiap muslim hanya saja sangatlah berbeda jika menggunakan yg Kimia sintetik, Islam mengajarkan pake madu,kurma dan herba2 yg alami lainnya.

    Sungguh suatu keharusan bagi seorg Muslim utk memperjuangkan Thibbun Nabawi dan Thibbun nabawilah pilihan seorg muslim dlm membantu pasien yg sakit dan solusi buat dirinya ktika ia sakit jua.

    Bolehlah kita mengetahui ilmu Medis Barat dan tehnik terapi lainnya, tp apa layak kita pake jika bertentangan dgn Hati nurani,tubuh, apalagi dgn islam?? layakkah kita menggadaikan agama kita hanya untuk menukarkan proses kesembuhan dlm mendapatkan kesehatan kita kembali?? itu mengapa manusia di tuntut untuk menjaga kesehatannya. jangan nunggu sakit baru berobat. yg penting jangan sampe apa yg kita miliki bisa mengalahkan iman kita kpd Allah krn jika sprti itu terjadi bisa jadi akan muncul Fir’aun dan Qorun Modern.Naudzubillah.

    jika kita menganggap ada sesuatu yg keliru apa seharusnya kita sembunyi2 atau didiamkan??

    syukron kpd penulis yg dgnny menambah pemahaman keilmuan pd masyarakat dan apa yg saya sampaikan juga bukan utk di setujui krn pembacalah yg berhak memutuskan utk di pahami dan di mengerti. jika benar ambillah dan jika salah tinggalkanlah dan lakukan perbaikan. Allah Maha segala-Nya dan setiap urusan pd-Nya lah kita kembali.

    secuil yg mungkin lebih baik..

  13. Misbahuddin
    Feb 01, 2012 @ 15:04:26

    manusia itu fitrah gak harus di kasi nutrisi atopun anti-body dari Kimia sintetik. Allah menciptakan alam agar kita saling menjaga kelestariannya

  14. abu_hasan
    Feb 04, 2012 @ 01:44:31

    assalaamu’alaykum…. ada hadits yg berbunyi kalo air mencapai 3 kullah maka tdk ternajisi, maka air sungai walaupun disitu ada yang kencing maupun berak insyaAlloh air disungai itu tetap suci dan boleh utk wudhu bahkan boleh kita mengambilnya sbg air minum(direbus dulu tentunya utk menjaga hiegienitas(supaya bebas kuman…bukan supaya halal lho..karena dari sudah dari sananya air itu suci dan bisa mensucikan makanya ikan itu hidup di air walaupun sudah bangkai tetap halal utk dimakan) jadi kalo dlm imunisasi dalam hal ini babi(unsur babi) dibawa ke Qiyas air sungai (dalam hal ini seperti air PAM), wallohua’lam…. antum nilai sendiri saja apakah qiyas ini sudah sesuai??

  15. Daud
    Feb 12, 2012 @ 00:56:47

    Ana tawaquf soal apakah benar imunisasi itu bermanfaat bagi kesehatan atau malah sebaliknya. Anak ana tidak diimunisasi dan baik-baik saja.

    Yang jadi masalah bagi ana adalah kehalalan Imunisasi, bahkan dari artikel diatas juga Vaksin sempat bersinggungan dengan Enzim Tripsin babi, tentu antum semua tahu babi itu haram dan najis, cara mensucikannya dibasuh 7x dan diselingi dengan tanah. Sudahkah vaksin diperlakukan seperti itu sehingga dapat dikatakan suci??

    Syaikh bin Bazz -rahimahullah- tidak salah, beliau benar tindakan pencegahan itu boleh dilakukan, tapi dengan sesuatu yang sudah jelas mencegah dan tentunya dengan hal yang HALAL.

    Allahualam bishshowab.

  16. nande
    Feb 17, 2012 @ 12:32:43

    izin share..

  17. Misbahuddin
    Feb 27, 2012 @ 11:18:26

    jika org sudah enggan ikut agama, maka tunggulah kehancurannya

  18. danny
    Mar 02, 2012 @ 16:22:15

    jangan mempertentangkan antara thibun nabawi dan kedokteran ilmiah yang notabene hasil teknologi barat, rambut dari hitam bisa jadi putih begitu juga keilmuan, jangan hanya karena itu dari barat, ini made in barat anda cap itu berbahaya tanpa sedikitpun anda semua memahami betul dan melakukan riset, saya berani bertaruh disini tidak ada satu pun ahli vaksinologi, ahli imunologi, bahkan medis pun saya ragukan, kalau dibilang MUI tidak berhak menghalalkan saya balik bertanya siapa pula yang mengijinkan anda mengharamkan? admin sudah tegas kembalikan pada mereka yang memahami ilmunya, baik ilmu agama dan ilmu medis, silahkan anda datang dan buktikan segala teori anda ke lembaga terkait, seperti menkes atau IDAI atau lsg ke satgas imunisasi….

    satu pertanyaan penting bagi mereka yang saya lihat sudah anti vaksin, sudahkan anda paham bagaimana vaksin dibuat dari hulu sampai hilir? anda tidak bisa bilang ini a ini b hanya berdasar hipotesa belaka, silahkan kita kan punya pabrik vaksin milik negara silahkan minta ijin pelajari dari awal sampai akhir, jadi kalau anda pertentangkan terus justru anda melemahkan thibun nabawi, anda mengekslusifkan diri dan tidak mencari pembanding dan masukan lain hingga ilmu tidak berkembang, bukankah Allah sangat mencintai kaum2 yang berpikir?

    semangat bertanya yang saya lihat ialah semangat menjatuhkan, saya jadi miris begitukah ideologi Islam bagi anda? ….

    jadi bilamana pemahaman keilmuan dan agama tidak memadai saya sarankan berhati-hati dalam berkomentar, terlebih anda menyebut angka kematian tanpa data sahih dan ilmiah, sekedar testimoni dan artikel2 nukilan, yang mudah bagi anak smp pun untuk membantahnya

    saya tidak punya semangat pro atau kontra, yang saya ingin kita sama2 berpikir secara intelektual, menjadi kaum yang berpikir bukan kaum pelaknat, Rasull tidak menyukai sifat orang2 yang berburuk sangka dan dengan mudah melaknat orang. sesuci itukah kita hingga membenarkan kita melaknat sesama muslim dan manusia?

    jadi demi kemajuan ilmu peradaban dunia mari kita berpikir bijak…

    terima kasih

  19. Siervo De DiosMisbahuddin
    Mar 02, 2012 @ 16:47:21

    knpa harus mendahulukan yg sintetis?? yg alami dan tuntunan agamakan ada…

  20. danny
    Mar 02, 2012 @ 16:53:56

    o ya…mau sekedar tanya aja. kenapa ya wajib pake helm…padahal kalo sudah celaka ya tetep celaka

  21. danny
    Mar 02, 2012 @ 17:58:59

    @ siervo : karennya kita harus memahami dulu apa itu vaksin, apa itu bakteri, bagaimana sistem imun dibangun, bagaimana virus tertentu tidak bisa dihambat dan dimusnahkan oleh sistem imun kita

    rambut kita saja dari hitam bisa putih, Apa Rasull melarang umatnya mengembangkan ilmu? perkembangan virus dari jaman dahulu tentu berbeda dengan jaman sekarang

    silahkan datangi depkes tanya berapa prevalensi kejadian ikutan pasca imunisasi, berapa banyak angka kematian, jangan hanya dari testimoni lalu menyimpulkan vaksin penyebabnya….kan tidak ada pembuktian ilmiah, dasarnya apa menyalahkan vaksin, anak divaksin terus tertabrak misalnya sampai meninggal apa itu termasuk juga gara2 vaksin

    apakah di sekeliling kita masih banyak kejadian cacar air? sudah jarang sekali,..silahkan tanya kenapa….

    masalahnya ada beberapa virus yang tidak cukup ditangani oleh sistem imun, anda tahu obat anti virus? karena virus setahu saya belum ada obatnya, yang melawan ialah sistem imun, kalau imun anda lemah habislah anda, makanya tubuh diperkenalkan kepada virus tsb

  22. Misbahuddin
    Mar 03, 2012 @ 17:36:51

    Bang Admin (@danny) yg Insya Allah pada dirimu Allah amanahkan kebaikan.
    tubuh manusia punya sistem yg Allah ciptakan sungguh luar biasa, ketika ada virus,kuman,bakteri yg berbahaya,, Sel-B Helper mampu mengusirnya keluar melalui urine, keringat dan media2 lainnya,, tentunya di tunjang dgn kondisi tubuh yg fit. simpel aja, org sakit disebabkan imunitasnya menurun (gak termasuk krn hal yg spontan sprti patah tulang, etc). dan org yg sakit terjadi akibat faktor2 penyebab sakit itu terjadi yg sering org tsbut lakukan yg terakumulasi beberapa waktu akibat gaya hidup yg berlebihan/kekurangan unsur yg diperlukan oleh tubuh dan akan timbullah keluhan2 yg merupakan signal bagi tubuh utk minta diperbaiki.
    islam gak pernah melarang yg namanya imunisasi/vaksinasi krn itu adlah keharusan bagi setiap individu untk menjaga kesehatannya,, krn tanpa fisik yg sehat kita bukanlah apa2. Hanya saja kenapa kita gak menggunakan atau mengkampanye-kan yg dari Alamiah, seperti Madu yg Allah sendiri anjurkan utk mengkonsumsinya (An-Nahl:69) dan sungguh luar biasa,, virus,kuman maupun bakteri gak dapat hidup dalam cairan Madu Asli dan Madu bisa dijadikan solusi yg lebih baik.
    Malahan imunisasi/vaksin banyak yg bersifat sintetik yg dimasukkan ke tubuh manusia. Okelah ada Standarisasi keamanan obat kimia sintetik, tp apakah ini diberikan sesuai dgn kodrat tubuh manusia yg HANYA sesuai dgn yg alamiah dan ilahiah??? Apakah yg SINTETIK satu2nya SOLUSI??? Layakkah tubuh manusia yg fitrah dimasukkan virus dgn alasan agar virus yg berbahaya dpt bersahabat dlm tubuh??? Hati Nurani seseorg yg bijak, yg mau memikirkan dan memahami Insya Allah akan mengatakan “TIDAK untuk SINTETIK”.
    Dan yg banyak orng dan saya pertanyakan “KENAPA MESTI SINTETIK???”
    gak pernah ada larangan manusia utk berkreasi apapun itu selama ia tidak menyalahi fitrah manusia dan tentunya tuntunan islam…

    apa yg kita perjuangkan, yg kita katakan, yg kita lakukan akan dimintai pertanggung-jawabannya, mgkin tidak didunia tapi diakhirat sudah pasti. (mengingatkan diri saya)

    Salam kebaikan buatmu, Sahabatku… (semoga tetap pd bimbingan Allah dan bersama kita menjadi yang lebih baik).

  23. danny
    Mar 04, 2012 @ 20:50:33

    Pak Misbah, seperti yang dikatakan oleh dr Soedjat di atas, sistem imunitas yang dibentuk oleh apa yang kita konsumsi adalah beda dengan sistem imunitas yang di dapat dengan vaksin…disinilah saya menantang bapak untuk lebih dalam lagi belajar tentang imunitas, vaksinologi, dan mikrobiologi…

    ga usah dipertentangkan karena memang tidak bisa dipertentangkan, kedua hal (vaksin maupun konsumsi yang alami) berjalan beriringan, vaksin tercipta karena sistem imun tubuh yang dibentuk tidak lagi dapat menahan serangan virus dan bakteri tertentu, kita bisa lihat bagaimana cacar air sudah daat diberantas,

    Saya tidak menyangsikan madu,kandungan dan manfaat madu sudah banyak yang membahas, dengan cara pemberian dengan jumlah yang tepat dan jenis madu yang tepat manfaatnya sangat banyak,

    vaksin,asi dan termasuk madu adalah pembantu tubuh membentuk antibodi sebagai bentuk perlawanan terhadap berbagai antigen, semuanya tidak bisa dikatakan 100% menangkal bakteri dan terutama virus, perbedaan bisa terlihat dari yang mendapatkan dan yang tidak di tingkat keparahan

    Jadi jangan serta merta kita menjudge vaksin itu tidak bermanfaat sementara seperti yang dr sodjat katakan di 194 negara data dan statistik berkata kebalikan dari yang bapak misbah sangka kan, Allah selain menunjuk madu juga memerintahkan kita untuk menjadi kaum yang berpikir bukan? jaman juga berderap maju begitu juga ciptaan Allah berderap maju,

    saya tidak menghalangi bapak mempraktekan thibun nabawai karena hal tersebut tidak harus dipertentangkan dengan kedokteran modern, begitu pula sebaliknya kedokteran modern bersandar pada penelitian yang panjang dan analisa ilmiah, tidak bisa sekedar bersandar pada hipotesa dan sangkaan yang tidak didasarkan ilmiah, jadi bila tanpa dasar berkata ini bahaya itu bahaya tanpa dasar ilmiah yang jelas, bagaimana bisa dikatakan benar? sekali lagi kita ingin termasuk kaum yang berpikir bukan?

    Alhamdulillah bapak diberikan ilmu lebih dari yang sangat awam akan kesehatan, seharusnyalah tugas bapak misbah memberi perimbangan yang berdasar serta jelas pada mereka yang meminta pendapat bapak,

    saya tidak mempertentangkan mereka yang menolak di vaksin begitu juga sebaliknya…yang saya pertentangkan adalah memberikan pernyataan yang menyudutkan tapi tidak bersandar pada keilmuan yang dibahas, tidak ada dasar analisa nya, jika hanya bersandar testimoni dan artikel itu saya anggap isu dan gosip karena tidak ada data ilmiah yang valid….

    Jadi bila kita tidak memahami betul terhadap apa yang kita sangka dan dakwa bukankah itu menjadikan kita menjadi masuk ke kaum yang tidak berpikir?

    dan satu lagi….virus dan bakteri adalah alami….Allah yang ciptakan langsung,

  24. Misbahuddin
    Mar 06, 2012 @ 16:30:33

    SINTETIK TIDAK AKAN PERNAH MENYATU DENGAN TUBUH MANUSIA.

  25. danny
    Mar 09, 2012 @ 12:52:49

    apa sih yang anda maksud dengan sintetik? kenapa harus pakai huruf besar semua ya?

  26. ummu shalih
    Mar 09, 2012 @ 12:53:05

    afwan, ana cuma mau tanya… dari seluruh komentar, jadi apa solusi konkretnya? karena kita juga gak bisa pungkiri,, ada fakta yg menyebutkan bahwa pernah terjadi wabah polio,campak maupun difteri d indonesia. sedangkan tingkat kekebalan tiap anak pun berbeda beda, mgkin ad anak yg tidak di imunisasi ya tidak kenapa napa, namun ada juga yg malah terkena penyakit. kalaupun mau memakai thibbun nabawi, seperti apa penerapannya pada bayi?? ana punya bayi yg sudah beberapa x di imunisasi… tujuannya mencegah penyakit itu terjadi….

  27. ummu shalih
    Mar 09, 2012 @ 12:55:36

    ana mohon juga pandangan salah satu ustadz indonesia tentang hal ini, misalnya ustadz hakim,,,,,

  28. danny
    Mar 09, 2012 @ 18:58:03

    Ibu Ummu….

    Solusinya ibu cari informasi yang berimbang mengenai kedua tehnik tersebut sebelum ibu memutuskan, ada baiknya ibu bisa mendapat lebih banyak informasi mengenai imunisasi ini ke lembaga atau orang yang terkait dan paham benar, contohnya ke dr Soedjatmiko Sp.A, atau ke dr di satua tugas imunisasi, ini agar ibu dapat informasi yang validitasnya tidak diragukan dan bukan dari hasil artikel didapat di google yang belum bisa dipertanggung jawabkan dengan baik,

    ada beberapa bakteri dan virus yang sulit diperangi, terutama virus karena virus sampai saat ini belum ada obatnya, satu2nya pertahanan kita adalah sistem imun kita, imunisasi jelas bertujuan memperkenalkan tubuh kita pada virus2 tertentu agar sistem imun kita mampu mengalahkan virus tersebut, jadi meningkatkan sistem imunitas belum menjamin menangkal virus tersebut maka dilakukanlah proses pengenalan virus ke tubuh

    prinsip imunisasi itu seperi kenapa kita diwajibkan pakai helm, ketika kecelakaan tingkat keparahan pemakai helm dan tidak akan berbeda, disini baik imunisasi secara di vaksin ataupu tidak, tidak 100% berhasil mencegah terjadinya penyakit tertentu seperti folio atau difteri, itu juga masih tergantung akan kondisi tubuh masing2, tapi dilihat dari angka penelitian imunisasi vaksin dinyatakan berhasil, adapun yang tetap terkena tingkat keparahannya berbeda dengan yang terkena tapi tidak di vaksin…

    mengenai kejadia ikutan pasca imunisasi itu banyak hal penyebab bukan semata2 karena vaksin nya, oleh karenanya ada metode khusus untuk mengetahui, juga penting diketahui ialah dari mulai alat yang digunakan hingga keterampilan yang memberikan vaksin, oleh karenanya ketika hendak di vaksin pastikan yang melakukan vaksin tersebut sudah di akui keterampilanya,….

    baik ibu mau di vaksin atau menggunakan thibun nabawi itu sepenuhnya hak ibu…dan saya yakin setiap ibu dimanapun berhitung dengan resikonya, jadi sekali lagi sebelum melakukan apapun ada baiknya kita cari informasi yang baik dan berimbang dan tentunya langsung pada ahlinya masing2

    begitu bu ummu

  29. ummu shalih
    Mar 11, 2012 @ 21:35:26

    bapak-bapak,,, serahkanlah semua kpd ahlinya…..
    jazakumullah atas semua info2 yang ada,,, dan untuk pak dokter (semoga beliau membacanya) ana mohon agar sekiranyapun dokter dan teman2 seprofesi juga turut memikirkan tentang alternatif lain daripada penggunaan tripsin babi……
    @admin,,,mohon berikan pandangan ustdz2 indonesia mengenai hal inni yaaaaa……

  30. ummu shalih
    Mar 11, 2012 @ 21:41:15

    @bunyana,,, smoga lebih berhati2 slm berkata…. berkatalah yg baik atau diam saja…

  31. indra ingin istiqomah
    Mar 18, 2012 @ 11:05:30

    apa yang telah dijanjikan Alloh pasti benar dan apa2 yang telah dikabarkan Rosululloh pasti terbukti janganlah ragu menggunakan tribum nabawi, mari kita sehatkan keluarga kita dengan Sunnah Nabi yang salah satunya pengobatan dengan tribum nabawi dan yang seharusnya dilakukan bagi siapa yang mengaku orang mukmin mengikuti Sunnah Nabinya , bukan mengikuti hal2 yang masih menjadi syubhat…karna islam tidak mengedepankan akal tapi mengedepankan dalil, dan tidak meninggalkan akal untuk berfikir

  32. bagasfabregas
    Apr 03, 2012 @ 13:19:43

    Afwan,
    Ana sebenernya sudah ragu dengan imunisasi, banyak alasannya, dan kayanya banyak yang sudah tuliskan diatas atau di web lain. namun baru kali ini ana akan berhadapan langsung krn insya Allah tahun ini ana akan dikaruniai anak.
    Masalahnya kita terus dibombardir dengan berita ketakutan suatu penyakit bila anak tidak divaksin. Rencananya ana mau meminimalis menggunakan vaksin kalau tidak mungkin tidak pakai sama sekali.

    Mohon sharingnya, kalau ada teman teman yang 100% sudah tidak pakai imunisasi atau hanya sedikit saja pakai imunisasi untuk anaknya. bisa pm aja ke ana: bagasfabregas@operamail.com. Apakah saja sarannya, tipsnya agar anak tetap sehat tanpa vaksin. atau mungkikn bisa info ke ana mungkin grup atau website atau buku yang ada informasi ini.

    Syukron, Salam.

  33. mataharihati
    Apr 04, 2012 @ 21:39:11

    afwan juga bro bagas

    saya kira bukan bombardir tapi edukasi, pada faktanya kita yang negara kita yang beriklim tropis ini memang masih banyak silent wabah, seperti tdiak kelihatan tapi nyatanya ada, oleh karenanya agar wabah daerah lain tidak mewabah di daerah yang tidak ada endemik disitulah fungsinya vaksin, kita tidak pernah sadar dan tahu kapan wabah itu datang….cacar sudah dinyatakan berhasil oleh karenanya vaksinya jadi tidak wajib…jadi kegawatan itu memang ada endingnya…itu terbukti pada cacar,….

    menggunkan vaksin atau tidak itu terserah anda brow…begitu juga resikonya,

    saya sarankan bila hendak mencari tahu tentang vaksin datanglah pada ahlinya, semisal dr soedjatmiko beliau ada di rscm dan berpraktik kalau tidak salah daerah pamulang, atau ke dr Toto wisnu di harapan kita yang juga satuan tugas imunisasi nasional beliau welcome untuk berdiskusi sepertinya…asal anda datang dengan baik2 tentunya….

    dan bila hendak ber vaksin datangilah dokter yang sudah punya sertifikat untuk memaksin, karena ini ada kursusnya dan ada sertifikatnya, hal tersebut untuk meminimalisir resiko human error saat pemberian vaksin,

  34. catatanlana
    Apr 12, 2012 @ 20:59:36

    Sangat menyesal anak saya tidak divaksinasi cacar air…sehingga bln lalu terserang penyakit cacar air yang cukup parah dan lama baru sembuh. Saran sebaiknya pemerintah memasukkan vaksinasi cacar air menjadi vaksinasi dasar yg wajib tuk seluruh balita.

  35. atea
    Jun 13, 2012 @ 12:09:57

    Coba pak misbahudin mengikuti workshop tentang sistem imun dan vaksin (anda bisa mengikuti di fakultas Kedokteran UGM, misalnya) saya yakin pandangan anda tentang haramnya vaksin akan berubah. dan satu lagi, tidak ada itu sintetik, kan bakteri itu makhluk hidup…trus apa yang menyatu di dalam tubuh? ya memang bakteri tidak akan menyatu di dalam tubuh kita, Pak. yang dimasukkan itu hanya untuk meninggalkan memori pertahanan imun di sel T dan sel B. dan maaf, sel B helper itu tidak ada ya..

  36. Fatwa-Fatwa Ulama, Keterangan Para Ustadz dan Ahli Medis Di Indonesia Tentang Bolehnya Imunisasi-Vaksinasi « sunandunghujanku
    Jun 15, 2012 @ 08:32:31

  37. Abu Fathimah Idratul Amri
    Apr 23, 2013 @ 23:37:43

    Assaalamu’alaikum, sebenarnya imunisasi itu nggak perlu diperdebatkan asal halal dan tidak bertentangan dengan syariat islam, krn fungsinya utk kekebalan tubuh..

  38. soni
    Mei 22, 2013 @ 13:03:19

    Alhamdulillah kalau ana sih kedokter dan tibunnabawi juga iya,
    Dokter untuk diagnosa penyakitnya(jika sakit)
    Tibunnabawi untuk pencegahan(imunitas) dan pengobatannya..

  39. nuzul amri
    Jul 14, 2013 @ 13:05:13

    Vaksin Polio Haram.
    Wajar banyak warga masyarakat yang menolak untuk memvaksinasi anak-anak mereka karena ternyata vaksin khususnya vaksin polio dalam prosesnya pembuatannya tidak bisa lepas dari unsur zat haram dalam hal ini babi.

    Hal tersebut diakui sendiri oleh ibu Astri Rachmawati dari perusahaan farmasi Bio Farma, dalam penjelasannya di acara seminar bertajuk “Imunisasi Halal dan Thayyib?” yang diselenggarakan oleh komunitas Halal Corner (HC) pada hari Sabtu kemarin (23/2/2013).

    “Dalam proses pembuatan vaksin polio harus menggunakan yang namanya enzim tripsin yang berasal dari hewan babi, namun tripsin hanya digunakan sebagai katalis dan proses akhir pembuatan vaksin polio murni bersih dari unsur tripsin itu sendiri,” ujar beliau.
    Sewaktu ditanya oleh islampos.com apakah selama ini pembuatan vaksin polio selalu menggunakan tripsin, ibu Astri dari pihak Bio Farma mengakuinya, karena menurutnya tripsin memang harus selalu dipakai sebelum ada alternatif lain. Oleh karena itu pihaknya meminta fatwa dari MUI soal ini. Diakuinya juga bahwa proses meminta fatwa dari MUI setelah ramai masyarakat yang mempertanyakan kehalalan vaksin.
    “Semua pembuatan vaksin polio harus menggunakan tripsin oleh karena itu kami meminta fatwa dari MUI dan hal itupun dilakukan setelah masyarakat mulai ramai mempertanyakan kehalalan vaksin,” tambahnya.

    Dijelaskannnya juga bahwa pihak Bio Farma sendiri masih sedang berusaha mengembangkan pembuatan vaksin yang tidak menggunakan tripsin (yang saat ini dalam tahap riset) dan beliau menjanjikan mudah-mudahan tahun 2016 sudah ada SIPV yang juga merupakan bahan untuk pembuatan vaksin polio namun bahannya sudah tidak menggunakan tripsin lagi.
    (Islampos.com/arrahmah.com)

  40. nuzul amri
    Jul 14, 2013 @ 13:06:47

    Anak adalah calon generasi penerus bangsa. Penerus tongkat estafet dan masa depan umat. Keadaan anak di masa sekarang dipengaruhi masa balitanya. Terutama di dua tahun pertama. Dua tahun pertama adalah masa keemasan bagi terbentuknya otak manusia. Oleh karenanya masa ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Demikian pula pada anak-anak usia balita. Usia di bawah lima tahun ini merupakan masa-masa yang rawan gizi dan penyakit. Sehingga pemasalahan di masa ini memerlukan perhatian. Merujuk pada kondisi ini masyarakat Indonesia kemudian dengan gotong royong mengadakan posyandu. Dengan tujuan mulia untuk membimbing masyarakat dalam upaya menjaga kesehatan balita. Di Posyandu ini berbagai aktivitas dilakukan termasuk vaksinasi. Satu yang ada di dalam benak masyarakat bahwasannya vaksinasi adalah upaya untuk memproteksi balita dari penyakit. Namun, belakangan ini timbul kontroversi seputar vaksinasi.
    Kontroversi yang terjadi seputar bahaya vaksin bagi anak bukanlah isapan jempol belaka. Pada tahun 1977, Dr. Jonas Salk (penemu vaksin polio pertama) menyatakan bahwa suntikan vaksin polio adalah penyebab utama dari timbulnya penyakit polio di AS sejak tahun1961. Tanggal 12 Juli 2002 Reuters News Service melaporkan hampir 1000 pelajar sekolah dilarikan ke rumah sakit setelah disuntik vaksin Ensefalitis di Timur Laut negeri Cina. Pada tahun1970-an data menunjukkan bahwa dari 260.000 penduduk India yang menderita TBC, sebagian besar adalah mereka yang telah mendapatkan vaksin BCG. Pada tahun 1972, di Ghana terjadi serangan penyakit campak yang luas dengan angka kematian yang tinggi, padahal pada tahun 1967 Ghana diklaim oleh WHO sebagai negara yang telah bebas penyakit campak setelah sebelumnya 96% penduduknya telah mendapat vaksin campak.
    Realita yang ada di berbagai belahan dunia ini mendorong kita untuk mewaspadai pelaksanaan vaksinasi pada generasi penerus kita. Apalagi setelah diteliti ternyata berbagai vaksin yang tersebar di Indonesia bersumber dari zat-zat yang diharamkan oleh Allah SWT. Seorang pakar dari Amerika mengatakan bahwa vaksin polio dibuat dari campuran ginjal kera, sel kanker manusia, serta cairan tubuh hewan tertentu termasuk serum dari sapi, bayi kuda, dan ekstrak mentah lambung babi. Selain sumber-sumber di atas, beberapa vaksin juga dapat diperoleh dari aborsi calon bayi manusia yang sengaja dilakukan. Vaksin untuk cacar iar, beberapa vakin juga dapat diperoleh dengan menggunakan fetal cell line yang diaborsi, MRC-5 dan WI-38. Vaksin yang mengandung MRC-5 dan WI-38 adalah beberapa vaksin yang mengandung cell line diploid manusia. Wi-38 adalah isolat yang diperoleh dari paru-paru bayi perempuan berumur tiga bulan.
    Belum lagi jika dilihat kandungan vaksinnya ternyata justru mengandung zat-zat yan berbahaya bagi tubuh. Aspek bahaya vaksin disebabkan oleh bahan-bahan dasarnya yang dibuat dari bahan-bahan dasarnya yang dibuat dari bahan-bahan kimia dan zat-zat lain yang bersifat racun bagi tubuh. Diantaranya adalah formaldehyde yang dikenal sebagai zat karsinogen, thimerosal yang mengandung merkuri (logam berat beracun), aluminium, phospat bahan pembuat deodoran yang beracun, dan zat-zat beracun lainnya seperti fenol aceton.
    Melihat sumber dan kandungan yang ada dalam vaksin, lalu mengapa Indonesia masih mau melaksanakan program tersebut? Telah diketahui bersama bahwa program vaksinasi telah menjadi program global (internasional) yang dicanangkan WHO dan UNICEF. Umumnya tiap negara telah menerapkan beberapa jenis vaksin yang diwajibkan untuk diberikan pada bayi dan anak-anak dengan jenis dan jadwal pemberian yang disesuaikan dengan kondisi tiap negara. Negara-negara ini kemudian menurut tanpa tau skenario yang ada. Leon Chaitow penulis buku ‘Vaccination And Immunization” menyatakan bahwa keberlangsungan program vaksinasi bukanlah disebabkan oleh ‘asumsi’ manfaat vaksin melainkan oleh tiga hal pokok yaitu: (1) keuntungan hingga jutaan dollar US yang didapat oleh perusahaan-perusahaan obat, (2) proyek vaksin telah menjadi landasan yang kokoh bagi dunia medis yang secara tidak layak telah dibangun dengan segala upaya dan kehormatan dunia medis sehingga harus tetap dipertahankan, (3) Propaganda medis telah berhasil mengubah pemikiran mayoritas umat manusia untuk berfikir sesuai keinginan mereka sehingga masyarakat menerima vaksin tanpa berfikir secara kritis. Namun berbeda halnya dengan Menkes Indonesia Siti Fadilah Supari. Beliau mengeluarkan pendapat kotroversial untuk menghentikan vaksinasi bagi anak-anak untuk penyakit meningitis, gondongan, dan penyakit-penyakit lainnya. Beliau khawatir perusahaan-perusahaan obat asing menggunakan Indonesia sebagai lahan pengujian.
    Sebagai seorang muslim, hamba Allah yang beriman bahwa Allah sebagai Pencipta dan Pengatur kehidupan maka sudah seharusnya seorang muslim menyandarkan segala aktivitas pada apa yang telah Allah gariskan. Begitupun dalam permasalahan vaksin yang ternyata menggunakan zat-zat yang diharamkan Allah SWT dan berbahaya bagi tubuh maka kita harusnya meninggalkan hal tersebut tanpa adanya keberatan sama sekali.
    Untuk permasalahan pertahanan tubuh sendiri Allah SWT telah memberikan sistem pertahanan manusia yang terbaik dan tidak ada tandingannya. Sistem pertahanan itu antara lain:
    1. Kulit tubuh yang utuh.
    2. Sekresi kelenjar sebasea di dalam kulit, mengandung faktor antimikroba seperti asam lemak dan Ph yang rendah.Banyak kuman, virus dan jamur yang peka terhadap asam organik dengan konsentrasi rendah.
    3. Aliran air mata,air liur dan air seni.
    4. Rambut getar pada sistem pernafasan yang selalu bergerak dengan konstan.
    5. Refleks batuk.
    6. Cairan mukosa membran dengan faktor antimikrobanya , misalnya lisozim.
    7. Suhu tubuh, banyak mikroorganisme yang tidak dapat menginfeksi karena pertumbuhannya tidak baik pada 37 derajat Celcius.
    8. Umur yang sangat muda, kurang dari 3 tahun atau sangat tua di atas 70 tahun, lebih peka terhadap serangan mikroorganisme karena respon imunnya kurang optimal.
    9. Keseimbangan hormonal, seperti pada pemakaian kortison untuk mengontrol kelainan autoimun atau reaksi tolakan,akan lebih mudah terserang infeksi karena peningkatan kortikosteroid dapat mengakibatkan penurunan respon inflamasi dan daya tahan tubuhnya terhadap infeksi.
    Tahapan kedua dari pertahanan tubuh adalah penjagaan atas kesehatan. Dalam upaya penjagaan atas kesehatan Islam mengajarkan dua hal. Yakni ketaqwaan kepada Allah SWT dan ketaatan pada Syariah Allah SWT. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terjadinya suatu penyakit dalam tubuh manusia sangat dipengaruhi oleh sugesti orang tersebut terhadap tubuhnya. Ketaqwaan merupakan sumber energi yang sangat penting agar terpelihara daya kelola emosi positif. Memberikan energi positif dalam jiwa untuk bisa hidup dengan berfikir positif pula. Ketaqwaan ini harus dimanifestasikan dengan ketundukan pada hukum-hukum Allah SWT. Dalam hal mempertahankan kesehatan dan pertahanan tubuh Allah SWT telah menurunkan seperangkat aturan tentangnya. Diantaranya adalah mengkonsumsi makanan yang halalan toyiban, hidup bersih dan sehat, serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitarnya.
    Al-Qur’an telah memberi petunjuk yaitu, memakan yang halal dan yang baik-baik (thayyib). Allah SWT berfirman:
    “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah mengikuti langkah langkah setan, karena setan adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah : 168)

  41. nuzul amri
    Jul 14, 2013 @ 16:26:50

    Ikuti seminar kesehatan, tentang program kesehatan dunia sekarang dan masa depan , back to sunah Rasul.

    dengan Tema : Konsep Kedokteran Islam masa depan

    Sabtu 20 Juli 2013, pukul 8 sd 12. di STIE AHMAD DAHLAN
    PEMBICARA :
    1. Prof.Dr.KH.Mustafa Ali Ya’qub (Guru besar Hadits Ilmu ilmu Al Qur’an)
    2. dr. Agus Rahmadi (Direktur Klinik Sehat)
    3. Hj. Ummu Salamah SH,Hajjam.(penulis buku “Vaksinasi Dampak
    Konspirasi & Solusi sehat ala Rasulullah)

  42. nuzul amri
    Jul 14, 2013 @ 17:05:14

    Ikuti seminar kesehatan, tentang program kesehatan dunia sekarang dan masa depan , back to sunah Rasul.

    dengan Tema : Konsep Kedokteran Islam masa depan

    Sabtu 20 Juli 2013, pukul 8 sd 12. di STIE AHMAD DAHLAN, CIPUTAT

    PEMBICARA :
    1. Prof.Dr.KH.Mustafa Ali Ya’qub (Guru besar Hadits Ilmu ilmu Al Qur’an)
    2. dr. Agus Rahmadi (Direktur Klinik Sehat)
    3. Hj. Ummu Salamah SH,Hajjam.(penulis buku “Vaksinasi Dampak
    Konspirasi & Solusi sehat ala Rasulullah)

    Infak Rp 50.000 fasilitas Makalah &Sertifikat.

    Tempat terbatas 300 peserta.

    Pendaftaran : Amri 082111996208, 08561780075 Fina 081315660921

  43. abu fathumah
    Jul 27, 2013 @ 14:19:57

    bagi yang masih bingung… seperti saya… ndak ada salahnya mendengarkan kajian ustad abdullah zen “antara dokter dan kyai” . mudah-mudahan berimbang menyikapi pengobatan barat dan tibbun nabawi.

  44. Aku Itoh
    Feb 08, 2014 @ 10:56:22

    Bismillahirrahmanirrahim….Apakah alat yang ditemukan anak Indonesia yg Kuliah dimalaysia ( karya anak bangsa itu menjadi juara ditengah2 juri Jahudi dieropa)tdk bisa dibeli atao digunakan ?Suatu alat yg bisa mendeteksi Unsur babi dalam kedaan beku ,cair dan bubuk .kenapa diskusinya mengarah keperdebatan yg tdk Ilmiah ?Beli alat nya undang penemu alat itu lalu buktikan kan secara Ilmiah baru beri label HARAM ato HALAL knp yg begini terlalu repot, YAng Halal jelas Yg haram juga Jelas Insya Allah .Apakah pada fatwa MUI dah melakukan penelitian ttg yg diskusikan ini? .coba baca diskusi Bank Syar’i bagaimana pihak Ustadz bank slalu menarik Label nya MUI padahal dialapangan trenyata PRILAKU riba yg terjadi Kata Ustadz M .Arifin Badri.Masa ngga ada sekelas ilmunya Ustadz M.Arifin B.Dari lulusan S3 kedokteran KOBE jepang yg slalu mengadakan Daurah KOBe Jepang .Ustadz M Arifin B Menguasai ilmu tentang praktek Riba dan prakatek Syar’i.lalu mana lulusan S3 kedoikteran salafi kobe jepoang yg ter libat dalam penelitian dan diskusi ini .?
    .

  45. pheedhee
    Agu 30, 2014 @ 11:54:39

    Jenis Vaksin Terkini Yang Dikembangkan Dengan Media Sel Binatang

    Kini telah dipergunakan berbagai jenis sel binatang yang memungkinkan untuk penelitian ilmiah dan pengembangan vaksin. Ada beberapa jenis vaksin yang saat ini berasal dari Vero sel (jenis sel binatang), mulai dari sel ginjal monyet hijau Afrika misalnya :

    Vaksin Rotavirus [Rotarix dan RotaTeq]
    Inactivated Polio Vaccine / IPV
    Vaksin Varicella / Smallpox vaccine
    Vaksin Japanese encephalitis

    Dalam masa depan, pembuatan dan pengembangan vaksin juga mungkin akan memakai jenis sel dari binatang lain, termasuk sel dari jenis anjing, yaitu Madin Darby Canine Kidney (MDCK) line, yang sudah dimulai sejak tahun 1958 dengan mempergunakan sel ginjal dari anjing jenis cocker spaniel. Beberapa vaksin berasal dari pembuatan Eropa juga sudah mulai menggunakan sel MDCK ini.

  46. pheedhee
    Agu 30, 2014 @ 11:55:44

  47. m. zailani
    Okt 22, 2014 @ 16:47:41

    Podo sibuk debat pakek teori ini n itu,ketahuilah yang kaya tetep penjual vaksin n penjual buku yang berkampanye mengenai pro vaksin n kontra vaksin.yg ikut debat di blog ini adalah korban dari penjual vaksin n penjual buku..stuju gk..

  48. Lostafara
    Des 16, 2014 @ 08:23:09

    assalamu ‘alaykum…
    saya tidak begitu paham dengan teori2 tentang Vaksin/Imunisasi dan segala argumennya. Tapi saya bisa bandingkan bahwa anak saya yang sebentar lagi berusia 1 tahun, alhamdulillah sampai sekarang tumbuh dengan sehat meski tanpa Vaksinasi/Imunisasi.
    Hal berbeda dialami oleh ponakan saya, usianya kurang lebih 1 bulan lebih muda dari anak saya (usianya kurang lebih 10 bulan, ikut imunisasi dan vaksinasi), namun sering mengalami demam, badannya timbul bercak2 merah.
    Beberapa bulan lalu juga sepupu saya lahiran, anaknya di beri vaksinasi/imunisasi pula. Namun kondisinya pun tak jauh beda, demam, di sebagian badannya timbul bercak2 merah.
    wallaahu a’lam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: