Oleh: Ustadz Abu Abdillah Ahmad Zain, Lc

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi panutan orang banyak…

Tulisan ini untuk setiap makhluk yang setiap perkataan dan perbuatannya diikuti orang banyak… Tulisan ini untuk setiap manusia yang menjadi trend made orang banyak…

Tulisan ini tertulis untuk Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak menjadikan seorang sebagai panutan yang menyesatkan mereka dari Jalan Allah Ta’ala, panutan yang sebenarnya dia adalah pembawa ke jalan syetan, jalan neraka. Nau’dzubillah.

Tulisan ini tertulis ketika saking banyaknya panutan, tapi menyesatkan umat dari Jalan Allah Ta’ala, baik dengan melakukan:

  • Kesyirikan dengan Istightsah dan Tawassulnya kepada orang-orang yang sudah mati.
  • Kesyirikan dengan mengambil barokah dari dzatnya orang-orang shalih.
  • Sarana penyebab kesyirikan dengan mencari-cari hari baik untuk pernikahan atau hajat,…dan lain-lain.
  • Bid’ah dengan amalan-amalan dan shalawat-shalawat yang tidak pernah ada di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • Bid’ah dengan pembacaan dzikir-dzikir yang dikhususkan tempatnya, waktunya, keadaaanya, jumlah bilangannya yang tidak pernah dikhususkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • Maksiat dengan ta’arufnya padahal itu pacaran.
  • Maksiat dengan bersalaman dengan wanita bukan mahram padahal larangan dan keharamannya jelas.
  • Maksiat dengan tidak menjaga pandangan, meluaskan pandangan kepada wanita yang setengah telanjang.
  • Maksiat dengan berkumpul dengan wanita-wanita bukan mahram tanpa ada penutup, bahkan wanitanya memakai pakaian yang tidak pantas dilihat kecuali oleh suaminya.
  • Dan lain-lain dari perbuatan dosa.

Takutlah kepada Allah Ta’ala… jika Anda menjadi panutan orang banyak dalam dosa dan maksiat, karena Anda akan:

1) Menjadi orang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihin wasallam atas umatnya. Intinya adalah Anda adalah orang sangat berbahaya bagi umat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِنِّي لَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي إِلَّا الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ وَإِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِي أُمَّتِي لَمْ يُرْفَعْ عنهم إلى يوم القيامة)

Artinya: “Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak takut atas umatku kecuali para pemimpin yang menyesatkan, dan jika diletakkan pedang dari umatkan maka tidak akan diangkat dari mereka sampai hari kiamat”. (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan di dalam kitab Silsisilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1582)

Makna pemimpin:

1. Para pemimpin Negara yang sesat dan para ulama yang menyesatkan.

والمراد بقوله: “الأئمة المضلين”: الذين يقودون الناس باسم الشرع، والذين يأخذون الناس بالقهر والسلطان; فيشمل الحكام الفاسدين، والعلماء المضلين، الذين يدعون أن ما هم عليه شرع الله، وهم أشد الناس عداوة له.

Orang-orang yang menuntun manusia dengan membawa nama syariat, dan orang-orang yang membawa manusia dengan kekuasaan, dan termasuk mereka ini adalah para pemimpin negara yang rusak dan para ulama yang menyesatkan, orang-orang yang mengklaim bahwa apa yang mereka lakukan adalah syariat Allah padahal mereka adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadapnya (syariat Allah). (Lihat kitab Al Qaul Al Mufid ‘Ala Kitab At Tauhid, karya Syeikh Ibnu Utsaimin)

2. Para pemimpin kekuasaan, para ulama, para ahli ibadah yang menyesatkan.

والأئمة جمع: إمام، والإمام هو القدوة الذي يُقتدى به في الخير أو الشر.

فإذا كانت القدوة من أهل الضلال ضلّت الأمة، وحصل فيهم الشر، ويراد بهم الأمراء الضالون، والعلماء الضالون، والعُبّاد الضالون، والدُّعاة الضالون، كل هؤلاء من الأئمة المضلّين، فإذا قاد الأمة هؤلاء قادوها إلى الهلاك، أما إذا قاد الأمة دعاة الحق قادوها إلى الصلاح والسلامة.

Aimmah adalah jamak (bentuk plural) dari imam dan Imam adalah panutan yang diikuti baik dalam kebaikan atau keburukan.

Jika panutan dari orang-orang yang sesat maka akan tersesat umat, dan terjadi ditengah-tengah mereka keburukan, dan mereka yang dimaksudkan adalah para pemimpin Negara yang sesat, para ulama yang sesat, para ahli ibadah yang sesat, dan para ahli dakwah yang sesat, setiap dari mereka adalah para pemimpin yang sesat, jika umat dituntun oleh mereka maka mereka akan menuntun kepada kebinasaan, adapun jika yang menuntun umat adalah para penyeru kebenaran maka mereka akan menuntun umat kepada kebaikan dan keselamatan. (Lihat kitab I’anat Al Mustafid bi Syarh Kitab At Tauhid, karya Syeikh Shalih Al Fauzan)

Mari perhatikan beberapa pernyataan yang sangat bermanfaat di bawah ini:

أن الأئمة ثلاثة أقسام: أمراء وعلماء وعباد; فهم الذين يخشى من إضلالهم لأنهم متبوعون; فالأمراء لهم السلطة والتنفيذ، والعلماء لهم التوجيه والإرشاد، والعباد لهم تغرير الناس وخداعهم بأحوالهم; فهؤلاء يطاعون ويقتدى بهم، فيخاف على الأمة منهم; لأنهم إذا كانوا مضلين ضل بهم كثير من الناس، وإذا كانوا هادين اهتدى بهم كثير من الناس.

Bahwa para pemimpin itu ada tiga jenis: Umara (pemimpin Negara) , Ulama (para ahli ilmu agama), Ubbad (para ahli ibadah). Mereka inilah yang ditakutkan penyesatannya karena mereka adalah orang-orang yang diikuti, para Umara mereka memiliki kekuasaan dan pelaksanaan, para ulama mereka memiliki penyuluhan dan pendidikan dan para ahli Ibadah mereka memiliki penipuan dengan keadaan mereka. Merekalah orang-orang yang ditaati dan dipanuti, maka ditakutkan umat akibat mereka, karena mereka jika menyesatkan maka mereka akan menyesatkan kebanyakan manusia dan jika mereka memberikan petunjuk kepada kebaikan maka kebanyakan manusia akan mendapat petunjuk. (Lihat kitab Al Qaul Al Mufid, karya Syeikh Ibnu Utsaimin)

أن الرجل العالم المقتدي به والمرموق بعين الصلاح إذا فعلها كان موهما للعامة أنها من السنن كما هو الواقع فيكون كاذبا على رسول الله بلسان الحال قد يقوم مقام لسان المقال وأكثر ما أتى الناس في البدع بهذا السبب يظن في شخص أنه من أهل العلم والتقوى وليس هو في نفس الأمر كذلك فيرمقون أقواله وأفعاله فيتبعونه في ذلك فتفسد أمورهم

ففي الحديث عن ثوبان رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن مما الخوف على أمتي الأئمة المضلين أخرجه ابن ماجة والترمذي وقال هذا حديث صحيح

وفي الصحيح أن النبي صلى الله عليه و سلم قال إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ولكن يقبض العلم بموت العلماء وحتى إذا لم يبقى عالم اتخذ الناس رؤساء جهالا فأفتوا بغير علم وأضلوا

قال الإمام الطرطوشي رحمه الله تعالى فتدبروا هذا الحديث فإنه يدل على أنه لا يؤتى الناس قط من قبل علمائهم وإنما يؤتون من قبل إذا مات علماؤهم أفتى من ليس بعالم فيؤتى الناس من قبلهم قال وقد صرف عمر رضى الله عنه هذا المعنى تصريفا فقال ما خان أمين قط ولكان ائتمن غير أمين فخان قال ونحن نقول ما ابتدع عالم قط ولكنه استفتى من ليس بعالم فضل وأضل وكذلك فعل ربيعة قال مالك رحمه الله تعالى بكى ربيعة يوما بكاء شديدا فقيل له أمصيبة نزلت بك قال لا ولكن أستفتى من لا علم عنده وظهر في الإسلام أمر عظيم. الباعث على إنكار البدع (ص: 55)

Seorang berilmu yang diikuti dan dipandang dengan mata keshalihan, jika mengerjakannya (shalat-shalat bid’ah), maka jelas akan memberikan samaran terhadap orang awam bahwa hal tersebut adalah termasuk sunnah, jadilah dia seorang yang berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan keadaannya yang terkadang bisa menjadi langsung (dia berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam). Kebanyakan manusia melakukan bid’ah dengan sebab ini, dia mengira seorang itu termasuk orang berilmu dan takwa, padahal dia bukan orang seperti itu, maka mereka memperhatikan perkataan dan perbuatannya, lalu mereka mengikutinya dalam hal tersebut dan akhirnya rusaklah keadaan mereka.

Di dalam hadits riwayat Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk rasa takut atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan”. (HR. Ibnu Majah dan At Tirmidzi dan beliau mengatakan: “Hadits ini adalah hadits yang shahih”)

Dan di dalam kitab Ash Shahih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu tiba-tiba, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama, sampai tidak tersisa seorang berilmupun maka akhirnya manusia menjadikan orang-orang bodoh (sebagai ulama), akhirnya mereka (orang-orang bodoh tadi) memberi fatwa tanpa ilmu dan mereka menyesatkan”.

Berkata Imam Ath Tharthusyi rahimahullah berkata: “Renungkanlah kalian semua hadits ini, sesungguhnya hadits ini menunjukkan bahwa manusia tidak didatangi perbuatan bid’ah disebabkan oleh para ulama mereka, akan tetapi bid’ah datang dari sisi jika wafat ulama-ulama mereka, lalu orang yang tidak punya ilmu memberi fatwa, maka datang bid’ah kepada manusia dari sisinya.

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memindahkan makna ini dengan berkata: “Seorang yang amanah tidak akan pernah berkhianat akan tetapi jika diberi amanat orang yang tidak amanat maka akhirnya dia berkhianat”.

Dan kita mengatakan: “Tidak pernah seorang alim melakukan bid’ah akan tetapi orang yang tidak berilmu ditanya fatwa akhirnya dia sesat dan menyesatkan”.

Dan demikianlah perbuatan Rabi’ah, Imam Malik berkata: “Suatu hari Rabi’ah menangis dengan sekencang-kencangnya, ketika ditanya: “Apakah karena musibah yang kamu dapatkan?”, beliau menjawab: “Tidak, akan tetapi akan ditanya orang yang tidak berilmu maka akhirnya muncul dalam (umat) Islam perkara yang sangat besar”. (Lihat Kitab Al Ba’its ‘Ala Inkar Al Bida’, karya Abu Syamah)

2) Menanggung dosa seluruh orang mengikuti Anda dalam dosa dan maksiat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنِ الْمُنْذِرِ بْنِ جَرِيرٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا ».

Artinya: “Al Mundzir bin Jarir medapatkan riwayat dari bapaknya, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mensunnahkan (mencontohkan) kebiasaan yang buruk, lalu diamalkan, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa yang mengerjakannya setelahnya, tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”. (HR. Ibnu Majah dan Muslim)

3) Diadukan kepada Allah Ta’ala oleh orang yang mengikuti Anda di dalam dosa dan maksiat agar Anda mendapat siksa berlipat dan terlaknat, akibat kesesatan yang Anda sebarkan.

{إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا (64) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (65) يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا (66) وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا (67) رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (68)} [الأحزاب: 64 – 68]

Artinya: “Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka)”. “Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong”. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul”. “Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)”. (QS. Al Ahzab: 64-68)

Pesan terakhir…

Jadilah manusia yang merupakan kunci Kebaikan bukan kunci kesesatan

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ ».

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dari manusia ada yang merupakan kunci-kunci untuk kebaikan dan penutup-penutup untuk keburukan dan sesungguhnya dari manusia ada yang merupakan kunci-kunci untuk keburukan dan penutup-penutup untuk kebaikan, maka bahagialah bagi siapa yang telah Allah jadikan kunci-kunci kebaikan melalui tangannya dan celakalah bagi siapa yang telah Allah jadikan kunci-kunci keburukan melalui tangannya”. (HR. Ibnu Majah dan dihasankan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1332)

Ahmad Zainuddin
Ahad 17 Dzulhijjah 1432H
Dammam, KSA.

Artikel: DakwahSunnah.com untuk Moslemsunnah.Wordpress.com