“…Boleh jadi kami tidak mencintai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu buruk bagimu…” (QS. Al-Baqarah : 216)

“Dunia ini tempat persinggahan, bukan tempat tinggal abadi. Manusia di dalamnya ada 2 golongan; pertama, orang yang menjual dirinya (kepada hawa nafsu) dan menjadi hancur karenanya, dan kedua, manusia yang membeli dirinya dan mampu membebaskannya.” – Ali bin Abu Thalib –

“Kamu memang lebih cocok menjadi suami perempuan bodoh itu…” kata Namirah kepada suaminya dengan nada sinis.

“Apa kamu bilang ? Perempuan bodoh ?” tanya Hamidi terkejut.

“Ya. Kenapa kamu marah, Mas ? Dia bukan apa-apamu lagi…”

“Tidak. Dia dan aku memang bodoh. Kamulah yang pintar Namirah…”

“Akhirnya kamu ngaku juga ya ? Yang mau menjadi suaminya pasti laki-laki bodoh sepertinya…” ejek Namirah membakar hati Hamidi.

“Jaga bicaramu, Namirah !” bentak Hamidi. Dadanya seolah ingin meledak.

Inilah pertengkaran hebat Hamidi dan Namirah istrinya. Hamidi tidak pernah menduga perempuan yang dicintainya sejak SMP itu ternyata tidak menghargainya sama sekali sebagai seorang suami. Bahkan dengan lantang dia berani menghinanya. Padahal demi bisa menikahi perempuan yang dia anggap sebagai cinta sejatinya itu, dia menceraikan Zakiah, istri pertamanya yang begitu setia dan benar-benar mencintainya.

Bagaimana nasibu biduk rumah tangga Hamidi dan Namirah ? Bagaimana Hamidi mengatasi kemelut rumah tangganya ? Dan seperti apa kehidupan Zakiah setelah dicerai oleh Hamidi ? Ustadz Abu Umar Basyier mengurai kisah nyata dalam buku Prahara Cinta, Sebuah Kisah Asmara yang Menguji Iman.

Simak kajiannya yang diselenggarakan di Masjid Abu Bakar Puncak Dieng, Malang. Pada hari Sabtu, 21 Mei 2011. Download pada link berikut:

Atau download dalam format mp3.zip Disini

~ al-Akh Ibnu Salim (alqiyamah.wordpress.com) ~