Oleh: Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc

بسم الله الرحمن الرحيم , الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

1. Tsunami memberi saya pelajaran bahwa, Allah Azza wa Jalla yang selama ini saya ibadahi, adalah satu-satu-Nya Yang MAHA KUASA, PENCIPTA dan PENGATUR. Oleh karenanya, saya tidak akan pernah menyekutukan-Nya dengan siapapun dan apapun dari makhluk, di dalam seluruh perkara yang khusus milik-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ}

Artinya: “Katakanlah, Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya)”. (QS. Al An’am: 65)

عَنْ جَابِرٍ – رضى الله عنه – قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ ( قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ ) قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَعُوذُ بِوَجْهِكَ » . قَالَ ( أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ ) قَالَ « أَعُوذُ بِوَجْهِكَ ( أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ) قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « هَذَا أَهْوَنُ » . أَوْ « هَذَا أَيْسَرُ »

Artinya: “Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ketika turun ayat:

( قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ )

“Katakanlah, Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَعُوذُ بِوَجْهِكَ

Artinya: “Aku berlindung dengan wajahMu”, dan ketika turun:

( أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ )

“atau dari bawah kakimu”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَعُوذُ بِوَجْهِكَ

Artinya: “Aku berlindung dengan wajahMu”, dan ketika turun:

( أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ )

“Atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu keganasan sebahagian yang lain”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ini lebih ringan” atau “Ini lebih mudah”. (HR. Bukhari)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:

{وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ}

Artinya: “Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al An’am: 18)

Perhatikanlah… Allah Yang Maha Perkasa menceritakan tentang sedikit dari kekuasaan-Nya…

{أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (65) وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ (66)}

Artinya: “Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat”. (Al Hajj: 65-66)

{ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ (59) أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ (60) أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (61) أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ (62) أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (63) أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (64) قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (65)}

Artinya: “Katakanlah: “Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?”.

“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran)”.

“Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui”.

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya)”.

“Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya)”.

“Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)?. Katakanlah: “Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar”.

“Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan”. (QS. An-Naml: 59-69)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa:

1. Karena tiada yang Berkuasa kecuali Allah Ta’ala semata, maka tidak boleh beribadah kecuali hanya kepada Allah Ta’ala semata.

2. Karena tiada yang Mencipta kecuali Allah Ta’ala semata, maka tidak boleh beribadah kecuali hanya kepada Allah Ta’ala semata.

3. Karena tiada yang Mengatur kecuali Allah Ta’ala semata, maka tidak boleh beribadah kecuali hanya kepada Allah Ta’ala semata.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

{ أمن } في هذه الآيات [كلها] (4) تقديره: أمن يفعل هذه الأشياء كَمَنْ لا يقدر على شيء منها؟ هذا معنى السياق وإن لم يذكر الآخر؛ لأن في قوة الكلام ما يرشد إلى ذلك.

Artinya: “lafazh { أمن… } (siapakah yang…) di dalam seluruh ayat-ayat ini maknanya adalah, “Apakah yang melakukan semua ini sama, dengan yang tidak mampu melakukan satupun darinya?!”, ini adalah makna redaksi (ayat), meskipun tidak disebutkan akhirnya, karena di dalam kuatnya pembicaraan menunjukkan akan hal tersebut”.

وإنما يستحق أن يُفرَدَ بالعبادة مَن هو المتفرد بالخلق والرزق ولهذا قال: { أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ } أي: أإله مع الله يعبد. وقد تبين لكم، ولكل ذي لب مما يعرفون به أيضًا أنه الخالق الرازق.

Artinya: “Sesungguhnya yang berhak disendirikan dalam ibadah adalah Yang SENDIRI DALAM PENCIPTAAN DAN PEMBERIAN REZEKI. Oleh karena inilah Allah berfirman { أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ } maksudnya: “Apakah ada sembahan bersamaan dengan Allah yang disembah”, dan telah jelas bagi kalian dan bagi setiap yang mempunyai akal, dari apa yang mereka ketahui tentang-Nya bahwa DIA adalah (ALLAH Yang) MAHA PENCIPTA dan MAHA PEMBERI REZEKI”. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim, karya Ibnu Katsir.

Berkata Al ‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah:

قوله: { أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ} الاستفهام للإنكار، أو بمعنى النفي، وهما متقاربان، أي: هل أحد مع الله يفعل ذلك ؟!

الجواب: لا، وإذا كان كذلك، فيجب أن تصرف العبادة لله وحده، وكذلك الدعاء، فالواجب على العبد أن يوجه السؤال إلى الله تعالى، ولا يطلب من أحد أن يزيل ضرورته ويكشف سوءه وهو لا يستطيع.

Artinya: “Firmannya { أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ} (yang artinya: “Apakah bersama Allah ada sembahan lain”), pertanyaan (dalam ayat ini) adalah untuk pengingkaran atau bermakna peniadaan, dan dua maksud ini saling berdekatan, maksudnya adalah “Apakah ada seseorang disamping Allah yang melakukan itu?!, jawabannya adalah tidak, dan jika demikian maka wajib seluruh ibadah diberikan hanya kepada Allah semata, demikian pula doa. Jadi, wajib atas seorang hamba untuk menunjukkan permintaan hanya kepada Allah Ta’ala dan tidak meminta dari seorangpun untuk menghilangkan keperluannya yang mendesak dan menghilangkan keburukan darinya padahal orang tersebut tidak bisa (melakukannya)”. (Lihat Al Qaul Al Mufid, karya Al ‘Allamah Ibnu Utsaimin rahimahullah)

Oleh karenanya…

1. Saya tidak akan pernah menyekutukan Allah Ta’ala dengan sesuatu apapun atau dengan siapapun dari makhluk, di dalam perkara yang khusus milik Allah Ta’ala.

Karena Hanya Allah Ta’ala-lah yang mencipta, mengatur dan berkuasa, tiada sekutu bagi-Nya.

{وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ}

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”. (QS. Luqman: 13)

Semoga Allah Ta’ala selalu menjauhkan saya dan keluarga serta seluruh kaum muslim dari kesyirikan dalam bentuk apapun. Allahumma amin.

2. Saya tidak akan pernah bertanya kepada dukun, tukang ramal dan orang pintar atau siapa saja yang mengaku mengetahui akan hal gaib baik yang akan terjadi ataupun yang sudah terjadi.

Bergelar apapun dia di tengah masyarakat, apakah itu ustadz, kyai, guru agama, juru dakwah, orang pintar, ahli spiritual dsb, jika dia mengaku mengetahui hal gaib, maka berarti sudah menyamakan diri mereka dengan ALLAH YANG MAHA MENGETAHUI HAL GHAIB, SATU-SATU-NYA TIADA SEKUTU BAGI-NYA. Dan itu sebuah perbuatan kesyirikan.

Karena Hanya Allah Ta’ala-lah yang mencipta, mengatur dan berkuasa, tiada sekutu bagi-Nya.

{قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ }

Artinya: “Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan”. (QS. An Naml: 65)

{إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ }

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Luqman: 34)

Semoga Allah Ta’ala selalu menjauhkan saya dan keluarga seluruh kaum muslim dari kesyirikan dalam bentuk apapun. Allahumma amin.

3. Saya tidak akan pernah memakai jimat apapun bentuknya, memberikan sesajen apapun bentuknya, menyembelih hewan apapun yang tidak ditujukan kepada Allah Ta’ala.

Karena yang Maha Berkuasa, Maha Pencipta dan Maha Pengatur, hanya Allah semata, tiada tandingan bagi-Nya.

Dan karena meminta perlindungan, kemudahan, kesehatan, keselamatan dan seluruh keperluan dunia maupun akhirat hanya dibolehkan kepada Allah Ta’ala semata, tiada sekutu bagi-Nya.

Mari perhatikan kisahnya Bapaknya para nabi ‘alaihimussalam.

{وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ (69) إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ (70) قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ (71) قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ (72) أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ (73) قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ (74) قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ (75) أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ (76) فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ (77) الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80) وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (81)}

Artinya: “Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim”. “Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kalian sembah?”. “Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”. “Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa) kalian sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?”. “Ataukah mereka dapat memberi manfaat kepada kalian atau memberi mudarat?”. “Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian”. “Ibrahim berkata: “Maka apakah kalian telah memperhatikan apa yang selalu kalian sembah”. “Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?”. “Karena sesungguhnya apa yang kalian sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam”. “(yaitu Rabb) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku”. “Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku”. “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”. “Dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali)”. (QS. Asy Syu’ara: 69-81)

Semoga Allah Ta’ala selalu menjauhkan saya dan keluarga seluruh kaum muslim dari kesyirikan dalam bentuk apapun. Allahumma amin.

4. Saya akan pergi ke kuburan untuk mengingatkan diri akan akhirat dan mendoakan orang yang sudah meninggal, tapi saya tidak akan pernah pergi ke kuburan siapapun, dengan tujuan ngalap berkah.

Karena yang Maha Berkuasa, Maha Pencipta dan Maha Pengatur, hanya Allah semata, tiada tandingan bagi-Nya.

Dan karena seluruh berkah berasal dari Allah Ta’ala serta milik mutlak Allah Ta’ala.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رضى الله عنهما قال النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم -:…الْبَرَكَةُ مِنَ اللَّهِ » .

Artinya: “Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berkah itu dari Allah”. (HR. Bukhari)

Semoga Allah Ta’ala selalu menjauhkan saya dan keluarga seluruh kaum muslim dari kesyirikan dalam bentuk apapun. Allahumma amin.

5. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk selalu beribadah, murni hanya untuk Allah Ta’ala, 100 persen, tidak dibarengi dengan riya’ (beribadah kepada Allah ingin dilihat manusia), sum’ah (beribadah kepada Allah ingin didengar manusia). Wallahul musta’an (semoga Allah Ta’ala memberi pertolongan dan petunjuk).

Karena yang Maha Berkuasa, Maha Pencipta dan Maha Pengatur, hanya Allah semata, tiada tandingan bagi-Nya.

Dan karena ibadah yang dibarengi dengan riya’ dan sum’ah tidak akan pernah diterima Allah Ta’ala serta terhapus pahalanya:

{… وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

Artinya: “…Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al An’am: 88)

{وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65) بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66)}

Artinya: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS. Az Zumar: 65-66)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Aku sangat tidak membutuhkan sekutu, siapa yang beramal sebuah amalan dia mensekutukan-Ku di dalamnya dengan selain-Ku, maka aku telah tinggalkan dia dan sekutunya”. (HR. Muslim)

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ « الرِّيَاءُ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمُ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِى الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً ».

Artinya: “Mahmud bin Labid radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syikir kecil”, para shahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu? Wahai Rasulullah”, beliau menjawab: “(dia adalah) Riya’, sesungguhnya Allah Tabaraka wa ta’ala berfirman pada hari yang mana seluruh hamba akan diberikan ganjaran sesuai dengan amalan mereka: “Pergilah kalian kepada yang pernah kalian riya’kan dengan amalan-amalan kalian ketika di dunia, maka lihatlah, apakah kalian akan mendapatkan ganjaran dari mereka?!”. (HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 951)

Pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah:

“Setiap Muslim yang meyakini bahwa Tiada Pencipta, Pengatur, Berkuasa kecuali Allah semata, maka wajib baginya untuk tidak beribadah; mendirikan shalat, berpuasa, membayar zakat, menunaikan haji, berdoa, berdzikir, menyembelih hewan, meminta pertolongan, meminta pertolongan dalam kesempitan, meminta perlindungan, merasa takut yang dibarengi dengan pengagungan dan kecintaan, merasa harap yang dibarengi dengan pengagungan dan kecintaan dsb, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala semata. Tiada sekutu bagi-Nya.

Kawan pembaca…bagaimana?, Saya yakin Anda sepakat dengan saya dalam hal-hal di atas.

Bersambung insyaAllah…

2. Tsunami memberiku pelajaran, bahwa kematian itu datang kapan saja, sesuai dengan tulisan takdir ilahi, tanpa ada yang mengetahui kecuali Allah Ta’ala. maka bersiap-siaplah untuknya! Karena bagi seorang muslim, siapa yang mati mulai saat itulah kiamatnya!

Ahmad Zainuddin
Selasa, 17 Rabi’uts Tsani 1432H
Dammam, KSA

~ Catatan Fb beliau dipublikasi kembali oleh Moslemsunnah.Wordpress.com ~