https://moslemsunnah.files.wordpress.com/2010/11/oaktree.jpg?w=261Dalam dunia ilmu hadits , nama Ibnul Atsir rahimahullah memang tidak setenar Imam al-Bukhari rahimahullah, Imam Muslim rahimahullah ataupun Imam Ahmad rahimahullah. Namun demikian, para ulama ahli hadits sangat mengapresiasikan karya ilmiah beliau dalam salah satu aspek ilmu hadits yang beliau dalami dan merasakan manfaatnya yang besar.

Terlahir dengan nama Mubarak, putra Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdul Karim bin Abdul Wahid asy-Syaibani al-Jazari, di kota Maushil (Mosul, Irak) pada tahun 544 H. Selanjutnya lebih populer dengan panggilan Ibnul Atsir, putra al-Atsir yang merupakan laqab (julukan) sang ayah.

Sejak dini beliau memasuki dunia ilmu dengan penuh semangat. Ini sesuai dengan pengakuan beliau dalam mukadimah kitab Jami’ul Ushul Fii Ahaditsir Rasul, ” Sejak memasuki masa remaja dan dalam usia belia, aku sangat tertarik untuk thalabul ilmi (belajar ilmu agama), duduk bersama ulama dan berupaya sebisa mungkin untuk menyerupai mereka (para Ulama). Itu adalah kenikmatan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku lantaran menjadikan hal-hal tersebut sanggup mengambil hatiku. Maka aku mengerahkan seluruh daya untuk memperoleh berbagai macam ilmu yang dapat aku raih dengan taufik Allah Azza wa Jalla sehingga terbentuk pada diriku kemampuan menguasai sisi-sisi yang tersembunyi dan mengetahui segi-segi yang sulit. Tidak kusisakan upayaku sedikitpun (untuk urusan itu). Allah-lah yang memberiku taufik untuk dapat mencari ilmu dengfan baik dan meraih tujuan mulia.” [1]

Seiring dengan perjalanan waktu, kemampuan ilmiah beliaupun mencapai kematangan. Tidak hanya menguasai satu disiplin ilmu. Ilmu bahasa Arab, Tafsir, Hadits dan Fiqih adalah deretan pengetahuan beliau yang menonjol. Karya-karya ilmiah beliau dibidang-bidang  yang telah disebutkan menjadi bukti nyata akan kepakaran beliau di dalamnya. Tak ketinggalan, Ulama yang juga akrab dengan panggilan Abus Sa’adat Majduddin ini juga dikenal sebagai penyair ulung. Akan tetapi, dari seluruh aspek keahliannya itu kedalamannya dalam ilmu hadits, terutama yang berkaitan dengan ilmul gharib lah yang paling menonjol. Namanya pun sering dikaitkan dengannya lantaran telah melahirkan karya yang disebut-sebut tiada tandingannya. Orang lebih mengenal beliau dari sisi lain.

Dalam sejarah kehidupan yang harus dilalui, diceritakan bahwa beliau mengidap suatu penyakit yang akhirnya melumpuhkan fungsi anggota geraknya, dua tangan dan kakinya. Dampaknya, beliau pun tidak bisa menulis sendiri. Untuk aktifitas yang memerlukan gerak banyak, beliau harus di tandu. Karena itu, beliau lebih sering berada di dalam rumahnya.

Kendatipun mengalami hidup dalam keterbatasan secara fisik, hal itu tidak menghalangi beliau untuk mewariskan ilmu-ilmu bagi umat. Bahkan ternyata, kitab-kitab karangan beliau, kebanyakan tersusun saat beliau tak berdaya menghadapi penyakit yang di deritanya. Ada sejumlah murid yang membantu beliau menuliskannya.

URGENSI AN-NIHAYAH FI GHARIBIL HADITSI WAL ATSAR

Imam Ahmad rahimahullah pernah di tanya tentang satu kata sulit yang terdapat dalam sebuah hadits. Beliau menjawab: ” Tanyakanlah itu kepada orang-orang yang menguasainya (ashhabul gharib). Aku tidak suka berbicara tentang perkataan Rasulullah dengan dasar prasangka semata yang mengakibatkan aku melakukan kesalahan”.

Ungkapan Imam Ahmad ini sedikit banyak menandakan pentingnya penguasaa dalam dunia ilmu hadits yand disebut dengan ‘ilmul gharib, yang nantinya menjadi titik keunggulan Ibul Atsir rahimahullah dan karyanya.

Secara mudah, pengertian al-ghariib, dikatakan Ibnu Shalah, ialah satu ungkapan untuk menerangkan kata-kata yang (belum) tidak dijelaskan maknanya, susah dipahami yang belum ada matan (teks-teks) hadits lantaran sudah jarang dipakai (orang)”. Jadi yang masuk kata gharib (kata-kata asing) adalah kata yang sudah termarjinalkan pemakaiannya, sulit dipahami, tidak terbiasa didengar di telinga.

An-Nihayah fi Gharibil Haditsi wal Atsar, itulah nama kitab susunan Ibnul Atsir rahimahullah dalam masalah ini. Sebagaimana namanya, an-Nihayah (penghabisan), kitab ini kandungannya karya, sangat mencukupi dan memadai untuk menjadi jembatan memahami kata-kata sulit yang terdapat dalam hadits-hadits, lantaran telah menggabungkan kitab-kitab sebelumnya, plus tambahan dari beliau yang banyak. Selain itu, melalui kitab ini, akan mudah dicari kata sulit yang diinginkan dan dengan cara yang mudah, tidak seperti karya-karya ulama sebelumnya dalam bidang yang sama yang masih menyisakan kesulitan dalam mencari perkata. Tak pelak, bila dijadikan sebagai ‘umdah, pegangan utama dalam ilmu gharib.

Tentang kitabnya, as-Suyuthi rahimahullah berkata: ” Kitabnya adalah kitab terbaik dalam bahasan gharibul hadits, paling lengkap dan paling terkenal, serta paling sering dipakai”.

DI ANTARA PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:

1. Manfaat besar memulai mendalami agama sejak dini. Pengaruhnya akan lebih kuat di masa dewasa
2. Pentingnya ketekunan dalam belajar untuk menggapai tujuan.
3. Allah Azza wa Jalla memudahkan hamba-Nya untuk memberi kemanfaatan bagi sesama bila jujur dalam niatnya meski menderita kekurangan secara fisik. Wallahu’alam

Manhajul Ibnul Atsir al-Jazari fi Mushannafihi, An-Nihayah fi Gharibil Haditsi wal Atsar.oleh Syaikh Prof. DR. Ahmad bin Muhammad al-Kharrath.

Footnote:
[1] Jami’ul Ushul Fii Ahaditsir Rasul 1/35

Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 06/Thn.XIV Dzulqa’dah 1431 H/ Oktober 2010 M. [Baituna, hal 9-10]

Abu Sahal al-Atsary
26 November 2010