Karena Mereka Menambah, maka Kami Tambah. Seandainya Mereka Diam, tentu Kami pun Diam

لما زادوا زدنا ولو سكتوا لسكتنا

Oleh:  Syaikh Salim Ath Thawil hafidzahullah

Segala puji hanya milik Alloh semata, sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada yang tidak ada Nabi lagi setelahnya. Amma ba’du,

… وإن العلماء ورثة الأنبياء، وإن الأنبياء لم يوّرثوا ديناراً ولا درهماً وإنما ورثوا العلم، فمن أخذه أخذ بحظ وافر

Sesungguhnya Alloh telah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat kepada hamba-hamba-Nya, dan Dia telah meridhoi Islam sebagai agama bagi mereka. Tatkala Rosululloh – shollallohu ‘alaihi wa sallam – meninggal dunia, beliau telah meninggalkan warisan dan ahli waris. Adapun warisan beliau adalah ilmu, sedangkan ahli warisnya adalah para ulama. Sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits Abu Darda – rodhiyallohu ‘anhu – dari Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bahwa beliau bersabda,

“… dan sesungguhnya para ulama adalah ahli waris para Nabi. Sedangkan para Nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar dan dirham, akan tetapi mereka hanyalah meninggalkan warisan berupa ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang melimpah.” [Riwayat Abu Daud (3641), at-Tirmidzi (2682), dan Ibnu Majah (223). Dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohihul Jami’ (2697)]

Dan sungguh para ulama telah mengeluarkan usaha yang sangat besar. Mereka senantiasa menuliskan ilmu dan menyusunnya dengan teratur. Ada yang menafsirkan al-Qur`an, ada yang menuliskan hadits, ada yang mensyarah (memberikan penjelasan) ada juga yang membuatkan judul-judul bab pembahasan. Di antara mereka ada yang menyusun ilmu dalam bentuk syair, ada yang meringkas, ada yang memberi komentar, ada yang mentahqiq, ada yang memilah antara shohih dan dhoif, ada yang membuat daftar isi, dan sebagainya, dan sebagainya. Dan semuanya adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh pada usahanya masing-masing. Semoga Alloh membalas mereka dengan sebaik-baik pembalasan.

Kemudian ketahuilah wahai pembaca, bahwa ulama yang paling besar perjuangan dan keutamaannya adalah para ulama yang membantah ahli bid’ah, pengikut hawa nafsu dan orang-orang yang sesat lagi menyimpang. Yaitu ulama yang mempertahankan islam, membela sunnah, menolong akidah dan menolak kesesatan. Maka engkau melihat mereka di segala medan selalu mengawasi setiap orang yang sesat dan suka mempermainkan.

Demikianlah mereka menolong kebenaran dan petunjuk. Dan inilah sebagian contoh yang akan menampakkan bagimu dengan gamblang bagaimana mereka menghadapi setiap orang yang digoda oleh hawa nafsunya untuk mempermainkan agama.

Contoh pertama:

Orang-orang pengikut keyakinan wihdatul wujud dan hululiyah – yang mana mereka adalah orang-orang yang paling sesat – menyangka bahwa Alloh ta’ala berada di setiap tempat. Adapun pengikut keyakinan wihdatul wujud mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada itu hakikatnya adalah Alloh ‘azza wa jalla, apa yang kita lihat di antara berbagai makhluk tidak lain adalah bentuk yang bermacam-macam terhadap hakikat yang satu, yaitu Dzat Alloh ta’ala. Sampai-sampai mereka berkata, “Tuhan adalah hamba, dan hamba adalah tuhan.”

Dan sebagian thoghut-thoghut itu berkata, “Maha suci engkau maha suci aku, alangkah agungnya perkaraku.” Dan sebagian mereka berkata, “Aku adalah Tuhan, aku adalah Tuhan.” Maha tinggi Alloh dengan ketinggian yang besar, dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zholim itu. Dan mereka berkata tentang Alloh dengan perkataan batil yang sangat banyak.

Adapun orang-orang hululiyah, tidak jauh berbeda dari pengikut keyakinan wihdatul wujud. Mereka menyangka bahwa Alloh ta’ala dengan dzat-Nya menitis (menempati) pada dzat-dzat sebagian makhluk, dari kalangan para wali dan orang-orang sholih. Mereka menyangka bahwa beribadah kepada wali adalah beribadah kepada Alloh ta’ala, karena Alloh telah menitis (menempati) wali tersebut. Ini adalah keyakinan hulul khosh (yaitu, keyakinan bahwa Alloh menitis hanya pada sebagian makhluk tertentu -pent). Dan di antara mereka ada yang menyangka bahwa Alloh menitis pada dzat seluruh makhluk, sampai pun pada hewan-hewan. Maha tinggi Alloh dengan ketinggian yang besar, dari apa yang mereka katakan.

Saya katakan, maka para ulama pun menghadapi orang-orang zindiq lagi menyimpang itu. Para ulama berkata, bahkan Alloh ta’ala tinggi berada di atas ‘arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Lalu para ahli bid’ah memprotes dan berkata, dari mana kalian mengatakan, “Terpisah dari makhluk-Nya” padahal Alloh ta’ala hanya berfirman,

عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Dia berada tinggi di atas ‘Arsy.” [Thoha: 5] dan Dia tidak berfirman, “Terpisah dari makhluk-Nya”?

Maka tatkala ahli bid’ah berkata, bahwa Alloh ta’ala menitis pada makhluk-Nya dan bercampur pada mereka, para ulama sunnah pun berkata, bahkan Alloh “terpisah dari makhluk-Nya.” Maka para ulama menghadapi kebatilan mereka dengan kebenaran.

Dan demikianlah; karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.

Contoh kedua:

Alloh ta’ala memiliki wajah yang hakiki, sebagaimana firman-Nya,

(كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Robbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” [ar-Rohman: 26-27]

Dan Alloh juga memiliki dua tangan yang hakiki, sebagaimana firman-Nya,

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

“(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka.” [al-Maidah: 64]

Inilah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah. Lalu ahli bid’ah berkata, kenapa kalian berkata, “wajah yang hakiki” dan “dua tangan yang hakiki” padahal Alloh tidak mengatakan seperti itu, tidak pula Rosul-Nya dan bahkan tidak pula para sahabat?

Ahlussunnah berkata, tatkala muncul orang yang beranggapan bahwa Alloh tidak memiliki wajah dan dua tangan, dan menganggap bahwa hal itu hanya sebagai majaz bukan sesuatu yang hakiki, maka ahlussunnah pun perlu untuk membantah mereka. Sehingga mereka (ahlussunnah) berkata, bahkan Alloh memiliki wajah yang hakiki bukan sebagai majaz, Dia juga memiliki dua tangan yang hakiki, bukan sebagai majaz. Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.

Contoh ketiga:

Ahlussunnah berkata, sesungguhnya Alloh ta’ala turun ke langit dunia “dengan dzat-Nya.” Lalu ahli bid’ah berkata kepada ahlussunnah, dari mana kalian mendapatkan bahwa Alloh ta’ala turun “dengan dzat-Nya” bukankah dalam hadits tidak ada keterangan turun dengan dzat-Nya, akan tetapi yang ada dalam hadits hanyalah “Alloh turun” dan “Robb kita turun” tidak ada penyebutan dengan dzat-Nya?

Ahlussunnah menjawab, tatkala ahli bid’ah memalingkan perkataan Rosul – shollallohu ‘alaihi wa sallam – sehingga mereka berkata, “Alloh turun” maksudnya adalah perintah-Nya yang turun, atau salah satu malaikat-Nya yang turun, atau rohmat-Nya yang turun; maka ahlussunnah berkata, bahkan yang turun adalah Alloh ta’ala “dengan dzat-Nya”. Mereka (ahlussunnah) menambah penjelasan “dengan dzat-Nya” untuk membantah orang-orang yang berkata, yang turun itu selain Alloh. Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.

Contoh keempat:

Ahlussunnah berkata, Alloh ta’ala memiliki sifat-sifat yang Dia bersifat dengan sifat-sifat tersebut “sesuai dengan bentuk yang layak bagi-Nya.” Ahli bid’ah berkata, dari mana kalian mendapatkan kalimat “sesuai dengan bentuk yang layak bagi-Nya”, padahal tidak ada kalimat ini dalam al-Kitab maupun as-sunnah?

Ahlussunnah menjawab, tatkala muncul orang-orang yang menolak sifat-sifat Alloh ta’ala dengan dalih bahwa penetapan sifat itu akan berkonsekuensi pada tamtsil (penyerupaan sifat Alloh dengan makhluk-Nya), maka ahlussunnah membantah mereka dengan berkata, bahkan Alloh ta’ala bersifat dengan sifat-sifat yang Dia sifatkan untuk diri-Nya atau disifatkan oleh Rosul-Nya – shollallohu ‘alaihi wa sallam – untuk-Nya “sesuai dengan bentuk yang layak bagi-Nya” tanpa ada penyerupaan. Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.

Contoh kelima:

Ahlussunnah wal Jama’ah berkata, sesungguhnya Alloh ta’ala datang pada hari kiamat dengan kedatangan yang hakiki dengan dzat-Nya. Mereka mengatakan demikian sebagai bantahan atas orang yang berkata, Dia datang secara majaz yakni yang datang adalah perintah-Nya. Demikianlah, karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.

Contoh keenam:

Ahlussunnah berkata, al-Qur`an adalah perkataan Alloh ta’ala bukan makhluk, sebagaimana Alloh ta’ala telah berfirman,

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman (perkataan) Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.” [at-Taubah: 6]

Ahli bid’ah berkata, Alloh ta’ala tidak berfirman tentang perkataan-Nya “bukan makhluk” lalu dari mana kalian mendapatkan hal itu?

Ahlussunnah berkata, dahulu kami tidak mengatakan “al-Qur`an adalah perkataan Alloh bukan makhluk” dan inilah yang dahulu dipegangi kaum salaf pada masa-masa pertama Islam. Dan tatkala muncul orang yang mengatakan bahwa al-Qur`an perkataan Alloh itu adalah makhluk, ahlussunnah pun tidak tinggal diam dengan tangan terbelenggu, bahkan mereka (ahlussunnah) berkata “al-Qur`an adalah kalam (perkataan) Alloh bukan makhluk.” Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.

Contoh ketujuh:

Ahlussunnah mengatakan, bahwa kekafiran ada dua macam; yang besar dan yang kecil. Maka tidak semua yang disebut oleh Pembuat syariat sebagai kekafiran akan mengeluarkan (pelakunya) dari agama. Bahkan di sana ada kekafiran yang tidak akan mengeluarkan pelakunya dari Islam, meskipun hal itu terjadi atau muncul darinya. Inilah yang dimaksud kufur ashghor (kekafiran yang kecil). Dan mereka juga menyebutnya dengan istilah “Kufrun duna kufrin”, dan yang semisalnya juga adalah istilah “Fisqun duna fisqin” atau “Zhulmun duna zhulmin.” Maka ahli bid’ah pun berkata, dalam nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah tidak ada apa yang kalian sangka ini, lalu dari mana kalian mendapatkan ini?

Ahlussunnah berkata, bahkan hal itu ada dalam al-Kitab dan as-Sunnah, akan tetapi kalian tidak memperhatikannya. Pembuat syariat telah menyebutkan sebagian amalan dan perkataan dengan sebutan kafir, namun Dia tidak menghendaki dengannya kekafiran yang mengeluarkan dari Islam. Oleh karena itu Ibnu Abbas – rodhiyallohu ‘anhuma – berkata, “Ini bukanlah kekafiran yang kalian pahami, akan tetapi ini adalah kufrun duna kufrin.” Inilah yang dipegangi oleh para ahli tafsir dari kalangan salaf dan para ahli tahqiq dari kalangan ulama. Seandainya bukan karena pemahaman ahli bid’ah terhadap nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah yang tidak sesuai dengan kehendak Alloh dan Rosul-Nya – shollallohu ‘alaihi wa sallam – tentu kami tidak perlu mengatakan “kufrun duna kufrin.” Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.

Contoh kedelapan:

Ahlussunnah wal Jama’ah berkata, terkadan Pembuat syariat meniadakan keimanan namun yang Dia kehendaki bukanlah peniadaan hakikat keimanan, atau pokok keimanan, atau peniadaan keimanan secara mutlak (keseluruhannya -pent). Bahkan terkadang Pembuat syariat meniadakan keimanan dan yang Dia maksudkan adalah peniadaan kesempurnaan iman, sebagaimana dalam hadits,

لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِيْنَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina dalam keadaan beriman.” [Riwayat Muslim (104) dari Abu Huroirah – rodhiyallohu ‘anhu]

Sesungguhnya dengan sabdanya ini beliau menghendaki peniadaan kesempurnaan iman yang wajib. Yakni, ketika dia berzina orang itu tidak memiliki keimanan yang mutlak lagi sempurna yang bisa mencegahnya dari perbuatan zina.

Ahli bid’ah pun berkata, kenapa kalian menambah “peniadaan kesempurnaan” kepada hadits itu.

Ahlussunnah menjawab, ini adalah salah satu uslub gaya bahasa arab yang mereka gunakan untuk berkata-kata. Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.

Wahai saudaraku pembaca, tidak diragukan lagi di sana banyak contoh lain selain yang saya sebutkan kepadamu. Dan maksud saya hanyalah menjelaskan bantahan kepada orang-orang yang membantah ahlussunnah dengan anggapan bahwa mereka (ahlussunnah) memberikan tambahan kepada al-Kitab dan as-Sunnah sesuatu yang tidak ada padanya. Maka saya katakan, mereka (ahlussunnah) hanyalah menambahkan untuk menjelaskan kebenaran ketika para pengusung kebatilan memiliki berbagai persangkaan-persangkaan (batil). Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.

Dan segala puji hanya milik Alloh, semenjak awal sampai akhir, secara lahir dan batin. Semoga Alloh mencurahkan sholawat, salam dan berkah kepada Nabi-Nya Muhammad, dan juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya.

[Makalah Syaikh yang mulia Salim ath-Thowil, Dinukil dari surat kabar al-Wathon Kuwait hari senin tanggal 28 Dzulqo’dah 1430 H yang bertepatan dengan 16 November 2009 M] [Disalin dari: http://www.direktori-islam.com/%5D