Sudah Saatnya Menyadari Hakekat Ajaran Sufi

Tinggalkan komentar

Oleh: Ustadz  Abdullah Taslim, MA

PENDAHULUAN

Istilah “sufi” atau “tasawwuf” tentu sangat dikenal di kalangan kita, terlebih lagi di kalangan masyarakat kebanyakan. Istilah ini sangat diagungkan dan selalu diidentikkan dengan kewalian, kezuhudan dan kesucian jiwa. Bahkan mayoritas masyarakat beranggapan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai hakikat takwa tanpa melalui jalan tasawwuf. Opini ini diperkuat dengan melihat penampilan lahir yang selalu ditampakkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli tasawwuf, berupa pakaian lusuh dan usang, biji-bijian tasbih yang selalu melekat di tangan, dan bibir yang senantiasa komat-kamit melafazhkan dzikir. Semua ini semakin menambah keyakinan bahwasanya merekalah orang-orang yang benar-benar telah mencapai derajat wali (kekasih) Allâh Ta’ala.

Sebelum membahas tentang hakikat tasawwuf yang sebenarnya, kami ingin mengingatkan kembali bahwa penilaian benar atau tidaknya suatu pemahaman bukan hanya dilihat dari pengakuan lisan atau penampilan lahir semata. Barometer sesuai tidaknya pemahaman tersebut, ialah menakarnya dengan Al-Qur‘ân dan Sunnah menurut yang dipahami oleh Salafush-Shalih. Lagi

Inilah Fatwa MUI Palsu Yang Menyatakan Syiah Tidak Sesat

7 Komentar

BEKASI– Di lokasi pengajian, preman bayaran menyebarkan brosur Fatwa MUI yang menyatakan Syi’ah sebagai mazhab Islam yang tidak sesat. Padahal fatwa MUI yang asli dan sah menyatakan ada lima kesesatan utama Syi’ah dalam hal akidah.

Empat orang preman bayaran tertangkap basah menyebarkan fatwa MUI palsu kepada jamaah tabligh akbar “Membongkar Kekufuran Syi’ah” di Masjid Jami’ Amar Ma’ruf Bulak Kapal, Bekasi Timur, Ahad (22/5/2011).

Selebaran bertajuk “Fatwa Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia): Syi’ah Sah Sebagai Mazhab Islam.” Brosur yang dicetak di atas kertas HVS putih dengan tinta hitam ini dibagikan kepada jamaah bersamaan dengan dipasangnya spanduk sponsor Majelis Ukhuwah Sunni-Syi’ah (MUHSIN) di seberang masjid. Lagi

Download Audio: Mengenal Aliran NII Metode dan Gerakannya (Ustadz Abu Qotadah) (Penting!!!)

Tinggalkan komentar

Alhamdulillah berikut ini kami hadirkan rekaman kajian dengan tema Mengenal Aliran NII (Metode dan Gerakannya) yang disampaikan oleh Ustadz Abu Qotadah. Kajian ini diselenggarakan di Masjid Baitul Ihsan, Sawahan Dalam III, Padang, Sumatera Barat pada hari Jum’at, 13 Mei 2011 lalu.

Pada kajian ini beliau menjelaskan tentang hakikat aliran sesat NII, tentang metode dan gerakannya. Semoga kajian ini bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Lagi

NII Dalam Timbangan Aqidah (6-Selesai)

1 Komentar

Oleh: Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam

Bab IV
FAKTOR PENYEBAB PENYIMPANGAN

Di dalam Bab III telah diuraikan bahwa terdapat beberapa hal penyimpangan aqidah yang dilakukan oleh NII diantara sekian banyak penyimpangan ialah sebagai berikut:

1. Mencampur-adukkan makna tauhid rububiyyah dengan tauhid mulkiyah.

2. Keliru dalam menafsirkan tauhid uluhiyah Laa ilaha ilallah.

3. Di dalam menafsirkan Laa ilaha ilallah, terpengaruh oleh Jabariyah yang sesat itu (salah satu firqah sesat yang telah lama ada).

4. Pemyempitan makna tauhid rububiyah, terfokus kepada hukum/hakimiyah.

5. Hukum Islam yang dipahami dan diyakini untuk diperjuangkan terfokus kepada jinayat (terutama dari generasi ke-3 NII).

6. Mengklaim bahwa hanya NII yang telah berhukum Islam, sehingga akibat tidak memahami firman Allah (Al-Maai-dah:44, 45 dan 47), berakibat melakukan takfir (mengkafirkan Muslim lain yang belum/tidak masuk NII), sebagaimana firqah Khawarij.

7. Perjuangan NII lebih memprioritaskan politik (siyasah), sehingga berlakunya hukum, ibadah dan akhlak serta mu’amalah yang benar hanyalah ada di dalam mulkiyah (NII). Inilah siyasah yang non syar’iyah.

8. Mulkiyah menjadi kriteria pertama dan terakhir bagi iman dan kafimya seseorang. Sehingga orang yang belum hijrah (ditandai dengan iqrar Syahadatain dan bai’at) ke NII dari negeri kafir, seperti RI, belumlah dianggap Muslim dan Mukmin. Seterusnya apabila tidak aktif lagi di dalam NII dianggap telah murtad, zhalim, munafik dan sebutan sejenisnya yang tentu saja menggelikan.

9. Tauhid asma wa sifat tidak dihiraukan, dan tidak pula diadakan, mereka menyerahkan saja maknanya kepada Allah. NII tidak memiliki pemahaman yang jelas di dalam tauhid jenis ini.

10. Sistematika tauhid menurut NII adalah RMU (Rububiyah, Mulkiyah dan Uluhiyyah) bertentangan dengan sistematika tauhid yang haq yakni rububiyah, uluhiyah dan asma wa sifat.

11. Menjadikan urusan furu’ (siyasah) menjadi ushul (tauhid mulkiyah). Lagi

NII Dalam Timbangan Aqidah (5)

Tinggalkan komentar

Oleh: Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam

Tafsir Ayat 1, 3 dan 4 Surat Al-fatihah, serta Ayat l, 2, dan 3 Surat An-nas Yang Haq.

Oleh sebab tauhid RMU (Rububiyah, Mulkiyah dan uluhiyah) menjadi inti aqidah pokok ajaran NII yang didasarkan kepada ayat 1, 3, dan 4 surat AI-Fatihah dan ayat 1 , 2, dan 3 surat An-Nas, maka kita perlu bertanya kepada para ulama, khususnya para mufasir, sebab merekalah orang yang paling tahu tentang makna atau tafsir ayat-ayat Al-Qur’an dengan tafsir yang ma’tsur (memiliki dasar penafsiran yang benar yakni ayat ditafsirkan dengan ayat, kemudian ditafsirkan dengan hadits dan memperhatikan ijma’ shahabat). Selanjutnya, kita akan melihat, apakah NII memahami dan meyakini akan tauhid RMU dengan dasar ayat-ayat seperti desebutkan di atas telah benar atau menyimpang? Apabila diketahui bahwa pemahamannya menyimpang, maka kita tidak dibenarkan mengikutinya, dan bagi yang telah meyakininya, maka ubahlah keyakinan itu, segera beristighfar dan rujuk kepada dien yang hanif ini.

AI-Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tafsir “Rabb” pada ayat Alhamdulillahirrabil `alamin berarti pemilik yang berhakpenuh, juga berarti majikan, juga yang memelihara serta menjamin ke-baikan kebaikan dan perbaikan semua makhluq alam semesta. Lagi

NII Dalam Timbangan Aqidah (4)

Tinggalkan komentar

Oleh: Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam

Penjelasan Tauhidullah, Antara NII Dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah

Sesungguhnya sebagian penafsiran tauhid rububiyah oleh NII seperti disebutkan di atas dengan penafsiran Ahli Sunnah wal Jama’ah tidaklah berbeda dalam hal meyakini bahwa hanya Allah-lah yang menciptakan segenap makhluk (Az-Zumar: 62), Allah-lah yang memberi rezki bagi segenap makhluk-Nya. (Hud: 6). Allah pula sebagai penguasa alam dan pengatur semesta, Dialah yang memuliakan dan menghinakan, yang menghidupkan dan mematikan, yang mengatur rotasi siang dan malam, Dialah yang maha Kuasa atas segala sesuatu (Ali Imran: 26-27). Allah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya. Sebagaimana menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan pemberian rezki. (Luqman: 11, Al-Mulk: 21, AI-Fatihah: 2 atau 1 dan Al-a’raf: 54).

Pengakuan rububiyah Allah adalah sesuatu keyakinan yang fitriyah. Bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ubudiyah juga mengakui tauhid rububiyah (lihat Al-Mukminun: 86-89). Jadi tauhid jenis ini telah diakui oleh semua manusia kecuali orang-orang zindiq (lihat tafsir QS. 2: 21-22 Ibnu Katsir), hingga semodel Fir’aun (Al-Isra: 102 dan AnNaml: 14). Lagi

NII Dalam Timbangan Aqidah (3)

Tinggalkan komentar

Oleh: Ustadz Abu Hudzaifah Suroso Abdussalam

Sistematika Tauhid (Menurut NII)

Di dalam program kerja periode kepemimpinan Adah Jaelani, pembinaan atau kaderisasi meliputi pembinaan mental spritual; material; dan keterampilan. Di dalam pembinaan mental spritual dijelaskan bahwa pembinaan ini meliputi bidang aqidah, ideologi (pandangan hidup), akhlak dan syari’ah. Pembinaan mental spritual diarahkan pada aqidah: tauhid uluhiyah, rububiyah dan mulkiyah.

Tauhid Uluhiyah, berdasarkan juklak PDB adalah Allah minded: Tidak ada ilah lain kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tauhid Rububiyah, tidak ada aturan, ketentuan, keputusan dan keterangan lain kecuali Al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai uswatun hasanah, itulah syariat Islam. Jadi bagi tiap pribadi dan usrah hanya boleh berlaku aturan syariat Islam.

Tauhid Mulkiyah: Hanya satu lembaga kekuasaan tertinggi adalah mulkiyah Allah yang didelegasikan kepada lembaga Rasul, kemudian lembaga Ulil Amri (QS, 4:59). Lagi

Older Entries Newer Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 545 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: