Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu pernah ditanya tentang puasa ‘Asyura. Ia menjawab, “Aku tidak mengetahui Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa pada suatu hari untuk mencari keutamaannya di banding hari-hari yang lain kecuali pada hari ini (‘Asyura), dan tidak pula berpuasa pada suatu bulan kecuali bulan Ramadhan. (Shahih, HR Bukhari (2006) dan Muslim (1132))

Yakni berpuasa pada tanggal 10 Muharram (‘Asyura), sebagaimana keutamaannya diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah di tanya tentang keutamaan pada hari ‘Asyura. Maka beliau  bersabda, “Dapat menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu.” (Shahih, HR Muslim (1162) dan Irwa-ul Ghalil (955))

Di sunnahkan pula untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu tanggal 09 Muharram (Tasu’ah).

Berdasarkan hadits dari Abi Ghathafan bin Tharif al-Murri radhiyallahu’anhu ia berkata, “Saya pernah mendengar Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu berkata, ‘Ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan Beliau memerintahkan (para Shahabatnya) agar berpuasa juga. ‘Mereka berkomentar, Ya Rasulullah hari ‘Asyura adalah hari yang di agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani. Maka Beliau berkata, insya Allah tahun depan kita akan berpuasa pada tanggal sembilan (Tasu’ah). Maka Ibnu Abbas berkata, Tetapi belum sampai pada tahun depannya, Beliau shallallahu;alaihi wa sallam sudah wafat.” (Shahih, HR Muslim (1134) Abu Daud (2136))

Diantara ulama yang berpendapat disunnahkan menggabungkan puasa tanggal 09 dan 10 Muharram adalah Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad, sehingga tidak menyerupai yang berpuasa pada tanggal sepuluhnya saja. (Syarah az-Zarqani (II/237) dan al-Majmu’ (VI/383))

Sebahagian ulama ada yang berpendapat disunnahkannya berpuasa pada tanggal 11 Muharram, di samping tanggal 09 dan 10 Muharram. Mereka beragumen dengan hadits yang di riwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’ahu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Berpuasalah pada hari ‘Asyura dan selisihilah kaum Yahudi, dengan berpuasa satu hari sebelumnya dan sesudahnya.” (Hadits Dha’if Jiddan, diriwayatkan oleh Ahmad (2418), al-Humaidi (485), Ibnu Khuzaimah (2095), dan lain-lain)

Hanya saja hadits ini Dha’if  sekali, jadi tidak dapat di jadikan sebagai dalil tentang disunnahkannya puasa pada tanggal 11 Muharram. Wallahu’alam

Disalin secara ringkas dari kitab ‘Shahih Fiqh Sunnah Jilid 3/182-183′ dan kitab ‘Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz, hal 406-407′.

Abu Sahal al-Atsary
12 Desember 2010 / 06 Muharram 1432

Artikel Terkait:

Keutamaan Bulan Muharram
Kekeliruan Dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriyah
Ada Apa Dengan Bulan Suro
Jangan Salahkan Bulan Suro (Audio Kajian)
Kebo Kyai Slamet, Dicari Berkahnya di Bulan Suro
Kapankah Waktu Puasa ‘Asyura