Redaksi Adz- Dzakhiirah Al Islamiyyah

Pro dan kontra dalam menanggapi tulisan adalah hal biasa. Untuk yang pro kami ucapkan jazakumullah khairan. Semoga Allah memberi kalian istiqomah di atas manhaj yang haq ini.

Adapun untuk yang kontra, yang mendapat nilai lebih adalah mereka yang memberikan tanggapan ilmiah. Hanya saja, sangat disayangkan sekali, nilai-nilai ilmiah itu entah mulai pudar atau memang belum tertanam pada diri mereka yang masih mengonsumsi majalah di atas. Nasihat kami, bacalah majalah-majalah ilmiah yang mengusung dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan majalah yang mengusung berita harian, ucapan fulan atau ‘allan, katanya ini atau itu tanpa sumber yang jelas, atau yang mengandung unsur provokasi atau adu domba antara sesama muslim. Kemudian mencari dukungan kepada ormas islam tertentu. Wallahul Musta’an.

Semoga tim sabili tidak lagi membuka lemahnya pemahaman mereka terhadap suatu tulisan dengan memahami judul diatas “Benar-Benar Bukan Jalanku” sebagai arti dari “Sabili” sebagaimana memahami judul edisi sebelumnya “Bukan Jalanku” sebagai arti dari “Sabili”. Jika belum punya kamus Arab-Indonesia silahkan memohon, semoga ada yang bantu. (Sabili No.14Th.XVII,hlm.43-44)

Bahasa kami “jorok”? bisa disebutkan contohnya? Justru label “gendeng”Wal ‘iyadzu billah. (Sabili No.14Th.XVII,hlm.36,38,43) (baca : gila) yang ditampilkan dan kalian anggap itu baik, dengan pengkultusan terhadap kuburan kalian ridha.

Tertera “Sabili bukan milik kelompok IM. Sabili juga tidak terkait dengan partai,” ternyata benar yang dikatakan ikhwan sebuah partai tertentu, “sabili dahulu beda dengan sekarang, semakin jauh dari “ulama”. Dan banyak dari mereka yang mundur dari berlangganan. Allahu yahdikum

AKIDAH & AKHLAK SABILI DALAM SOROTAN

Oleh : Abu ‘Abdirrahman bin Thoyyib as-Salafy, Lc

Setelah Adz-Dzakhiirah Edisi 57 membantah Sabili dengan hujjah, dalil dan bukti nyata. Ternyata para pembaca banyak kecewa ketika melihat Sabili yang menaggapi bantahan tersebut hanya dengan provokasi, lagi-lagi tuduhan tanpa bukti, dan syubhat yang sudah basi. Sabili hanya bersandar kepada isu, ucapan si b dan si c, mengumpulkan qiila wa qooluu, tak ubahnya seperti ahli kalam (filsafat). Sebagaimana yang telah dikatakan oleh ar-Raazi ketika dia menyesali belajar ilmu kalam [1] :

“Dan tidaklah kami mengambil manfaat dalam pembahasan kami sepanjang usia kami, Melainkan hanya mengumpulkan qiilaa wa qooluu (ucapan si b dan si c)”.

AKHLAQ APA YANG DIINGINKAN SABILI

Sabili berpura-pura menyeru kepada akhlak al-karimah untuk menutupi kebatilannya. Padahal setiap orang yang berakal sehat ketika membaca majalah tersebut akan mengetahui bagaimana kualitas akhlak Sabili yang amat jauh dari akhlak al-karimah.

Mengatakan “Bahaya Gurita Salafi Ekstrim, gurita salafi zionis” apakah ini akhlak kalian ?! Allah berfirman :

“Dan janganlah kalian saling memberikan gelar (yang buruk), sejelek-jelek panggilan adalah panggilan yang buruk setelah keimanan. (QS. al-Hujurat:11)

Menyetujui adanya kerusuhan/pemukulan masjid, apakah itu akhlak al-karimah kalian ?! Melakukan pemukulan kepada seorang muslim tanpa hak, itukah akhlak al-karimah kalian ?! Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah Yang Maha Perkasa !!!

Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) bersabda :

“Hati-hatilah kalian dari kedzhaliman, karena kedzhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dan “Hati-hatilah kalian dari doa orang yang terdzhalimi karena tidak ada hijab antara dia dengan Allah.” (HR. al-Bukhari)

Mengapa kalian tidak mengikuti pesan Pak Kyai al-Jaidi (yang fotonya terpampang seram dan dengan mimik kemarahan yang sangat) : Mari Mengedepankan Akhlak al-Karimah ?! Kenapa Pak Kyai tidak tersenyum, padahal akhlak al-karimah adalah senyum kepada sesama muslim. Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) bersabda :

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi)

SIAPA KHOWARIJ ?

Mengatakan “Khawarij teriak khawarij, salafi hobi sekali mengkafirkan ulama yang bukan kelompoknya, berpaham murjiah”, apakah ini akhlak al-karimah kalian, menuduh tanpa bukti ?! Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Allah berfirman :

“Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (QS. al-Baqarah:111)

Para ulama salaf telah menjelaskan kepada kita ciri-ciri Khawarij dengan sejelas-jelasnya bak matahari di siang bolong. Inilah ucapan mereka, pahamilah jika kalian ingin kebenaran :

  1. Imam al-hafidz Abu Bakr Muhammad bin al-Husein al-Ajurri (رحمه الله) berkata : Di antara syubhat Khawarij adalah (berpegangnya mereka dengan) firman Allah (سبحانه و تعالى) : “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang kafir” (QS. al-Maidah:44). Mereka membacanya bersama firman Allah : “Namun orang-orang kafir itu mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka” (QS. al-An’aam : 1). Apabila mereka melihat seorang hakim yang tidak berhukum dengan kebenaran, mereka berkata : Orang ini telah kafir, dan barangsiapa yang kafir, maka dia telah mempersekutukan Tuhannya. Maka mereka para pemimpin-pemimpin itu adalah orang-orang musyrik.[2]
  2. Abu Umar Ibnu Abdil Barr (رحمه الله) berkata : Telah tersesat sekelompok ahli bid’ah dari golongan Khawarij dan Mu’tazilah dalam bab ini. Mereka berdalil dengan atsar-atsar ini dan yang semisalnya untuk mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa, mereka berhujjah dengan ayat-ayat dalam al-Qur’an yang bukan secara dzohirnya, seperti firman Allah ta’alaa: “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang kafir.”[3]
  3. Al-Jashshash berkata: “Khawarij telah mentakwilkan ayat ini untuk mengkafirkan orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, padahal orang tersebut tidak mengingkari hukum Allah.[4]
  4. Syaikhul Islam Hujjatu Ahli Sunnah Wal Jama’ah al-Imam al-’allamah Abu Muzhoffar as-Sama’ni (رحمه الله) berkata: Ketahuilah bahwa Khawarij berdalil dengan ayat ini (QS. al-Maidah:44), mereka mengatakan : Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia kafir, tapi Ahlu Sunnah berkata : Dia tidak kafir hanya dengan meninggalkan hukum (Allah).[5]
  5. Al-Imam Al-Qodhi Abu Ya’la (رحمه الله) berkata: Khawarij berhujjah dengan firman Allah ta’ala : “Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. Dzohir dalil mereka ini, mengharuskan pengkafiran para pemimpin yang dzolim, dan ini adalah perkataan Khawarij, padahal yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah orang-orang yahudi.[6]
  6. Abu Hayyan (رحمه الله) berkata : Khawarij berdalil dengan ayat ini untuk menyatakan, bahwa orang yang berbuat maksiat kepada Allah itu kafir, mereka mengatakan : Ayat ini, adalah nash untuk setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, bahwa dia itu kafir.[7]
  7. Abu Abdillah al-Qurthubi (رحمه الله) menukil perkataan dari al- Qusyairi (رحمه الله) : Madzhabnya Khawarij adalah barangsiapa yang mengambil uang suap dan berhukum dengan selain hukum Allah maka dia kafir.[8]
  8. Al-Baghdadi (رحمه الله) berkata: Tidak ada satupun dari kelompok-kelompok ahli bid’ah melainkan sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lain serta berlepas diri darinya, seperti Khawarij, Rafidhah, dan Qadariyah. Sampai-sampai jika ada tujuh orang dari mereka bertemu di suatu majelis, mereka berpisah dan sebagiannya mengkafirkan sebagian yang lain.[9]
  9. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (رحمه الله) berkata : Kebanyakan dari ahlu bid’ah seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Jahmiyah dan Mumatstsilah (Kelompok yang menyamakan Allah dengan makhlukNya), mereka meyakini suatu aqidah yang sesat, namun mereka menyangka itu benar dan mereka pun mengkafirkan orang yg menyelisihi mereka.[10]
  10. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (رحمه الله) berkata : Oleh karena itu, wajib untuk berhati-hati dalam mengkafirkan kaum muslimin karena dosa atau kesalahan, karena hal tersebut merupakan bid’ah pertama yang muncul dalam Islam. Mereka mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah serta harta mereka.[11]

SABILI MENUDUH KHAWARIJ TAPI MENGAGUNGKAN GEMBONG KHAWARIJ

Alhamdulillah dakwah salafiyah sangat amat jauh dari ciri-ciri khawarij ini. Tunjukkan kepada kami wahai sabili, bukti kalian tentang pengkafiran kami terhadap kaum muslimin atau kepada ulama kaum muslimin, jika kalian memang bukan pendusta ?!

Tidakkah kalian tahu ataukah kalian berpura-pura tidak tahu bahwa yang hobi mengkafirkan dan yang mengobral murah vonis kafir kepada kaum muslimin adalah para ulama kalian ?! Sadar dan sadarlah, wahai sabili !!! Pahami ucapan para tokoh kalian berikut ini, jika kalian masih punya hati, dan bukalah mata kalian agar kalian bisa mengerti !!!

Bukankah Sayyid Quthub mengkafirkan masyarakat Islam sekarang secara menyeluruh?! Dia berkata: “Pada hakekatnya permasalahan ini adalah permasalahan kufur dan iman, syirik dan tauhid, jahiliyah dan Islam. Dan ini haruslah jelas. Sesungguhnya manusia sekarang bukanlah orang-orang Islam, meskipun mereka mengaku sebagai kaum muslimin. Mereka hidup di kehidupan jahiliyah. Jika ada orang yang suka untuk menipu dirinya atau orang lain, dengan dia meyakini bahwa masih memungkinkan bagi Islam itu berdiri tegak bersama jahiliyah, maka terserah dia. Akan tetapi, tipuannya tersebut tidak bisa merubah hakekat fakta yang ada sedikitpun. Ini bukanlah Islam dan mereka bukanlah kaum muslimin.”[12]

Dia berkata dalam kitab Dzilalil Qur’an: “Zaman telah kembali seperti semula ketika datangnya agama ini dengan membawa kalimat laa ilaha illallahu. Manusia telah murtad/kembali kepada peribadahan kepada makhluk dan kepada kedzaliman agama-agama, dan mereka telah berpaling dari laa ilaha illallah. Manusia secara umum, termasuk mereka yang selalu mengumandangkan di menara-menara di timur dan di barat bumi kalimat laa ilaha illallah, tanpa praktek maupun realisasi, mereka lebih berat dosa dan adzabnya pada hari kiamat, karena mereka telah murtad, kembali kepada peribadahan kepada makhluk setelah jelas bagi mereka petunjuk dan sesudah mereka memeluk agama Allah ini.”[13]

Dia juga berkata : “Sesungguhnya tidak ada di muka bumi ini pada saat ini negara islam ataupun masyarakat Islam. kaidah bermuamalah di dalamnya adalah syariat Allah dan Fiqih Islami.”[14]

Dan masih banyak lagi ungkapan dan ucapan Sayyid Quthub dalam kitabnya, yang tidak bisa ditakwil lagi dalam mengkafirkan para ulama serta penguasa kaum muslimin dan seluruh masyarakat Islam, hingga para tukang adzan menurut Sayyid Quthub semuanya kafir dan Murtad, lebih berat dosa dan adzabnya dari pada selain mereka.

Dari kitab-kitab tersebut dan yang semisalnya sebagian tukan takfir kontemporer mengambil metode dan pemikiran mereka yang berlandaskan kepada pengkafiran masyarakat kaum muslimin. Dan dampak dari semua itu berupa penculikan, peledakan, dan penumpahan darah orang-orang yang tidak bersalah (terorisme dan radikalisme) di kebanyakan negeri kaum muslimin dan selainnya.[15]

PENGAKUAN TOKOH SABILI TENTANG PENCETUS TERORISME

Dan hal ini diakui sendiri oleh tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin dan mereka tulis dalam kitab-kitab mereka:

Berkata al-Qaradhawi : “Pada fase ini muncullah kitab-kitab asy-Syahid[16] Sayyid Quthub yang menggambarkan fase terakhir dari pemikiran takfirnya, yaitu pengkafiran terhadap masyarakat Islam, memutuskan hubungan dengan orang lain serta mengumumkan perang (terorisme) terhadap semua orang”.[17]

Berkata Farid Abdul Khaliq : “Apa yang telah berlalu mengisyaratkan kepada kita bahwa awal mula pemikiran takfir ini muncul di tengah para pemuda Ikhwanul Muslimin di dalam penjara al-Qanaathir (di kairo Mesir) pada akhir tahun 50-an atau awal tahun 60-an. Mereka terpengaruh dengan pemikiran asy-Syahid Sayyid Quthub dan buku-bukunya. Mereka mengambil ilmu darinya bahwa masyarkat sekarang dalam keadaan jahiliyah dan bahwasanya dia telah mengkafirkan penguasa kaum muslimin yang tidak mengakui hukum Allah dengan tidak berhukum dengan hukum-Nya, dan begitu pula dengan rakyatnya yang ikut meridhai hal tersebut.”[18]

Berkata Salim al-Bahnasawi dalam kitabnya al-Hukmu wa Qadhiyatu Takfiri Muslim: “Sayyid Quthub telah menukil sebagian ucapan al-Maududi dan memaparkannya dalam kitab-kitabnya terutama jilid ketujuh dari kitab Dzilal. Kemudian datangalah sekelompok orang yang menjadikannya landasan untuk menyatakan bahwa kaum muslimin telah kafir, karena mereka melafadzkan syahadat namun tidak mengetahui maknanya serta tidak mengamalkan kandungannya. Meskipun mereka mengerjakan shalat, puasa, haji dan mengaku sebagai kaum muslimin, hal tersebut tidaklah merubah kekafiran mereka.”[19]

Ali Jarisyah menyatakan bahwa tukang-tukang takfir tersebut berasal dari kelompok Ikhwanul Muslimin, kemudian mereka memisahkan diri darinya dan mengkafirkannya.[20] Dia berkata: “Diberitakan bahwa sekelompok orang keluar dari induk Jama’ah Islamiyah ketika mereka berada di dalam penjara. Bersamaan dengan itu, sekelompok orang tersebut mengkafirkan induk Jama’ah, karena mereka tetap dalam keyakinannya akan kafirnya penguasa dan para menterinya serta semua rakyatnya. Kemudian sekelompok orang terpecah lagi menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil, setiap mereka saling mengkafirkan yang lainnya.”[21]

ANTARA FAKTA DAN DUSTA

Inilah argumentasi kami tentang ulama kaliam, dan itu pula bukti kami. Namun mana bukti kalian, jika kalian memang bukan pendusta ?! Mengapa kalian bungkam dan membiarkan keekstriman Sayyid kalian, hingga menjadi benih bagi radikalisme dan terorisme dunia ?! Tidak kalah juga, peran Hasan al-Banna yang juga memprakarsai adanya radikalisme dan terorisme ini. Sebagaimana yang telah dinyatakan sendiri oleh pemimpin Ikhwanul Muslimin ketiga yaitu Umar Tilmisani dalam bukunya Dzikrayaat laa Mudzakkiraat hal.57 : “Sesungguhnya hasan al-Banna dengan kesufiannya, beliau adalah pencetus kudeta tahun 1952″. Apakah ini yang dikatakan cinta buta, taqlid buta dan hati yang buta ?!

Demikian pula, sayyid kalian telah berkata keji, kasar dan kotor kepada Nabi Allah, Kaliimullah Musa alaihi, dan para sahabat Rasul (صلى الله عليه و سلم). Sayyid berkata : “Kita ambil Musa sebagai contoh pemimpin yang cepat naik pitam…” [At-Tashwir al-Fanni fil Qur'an hal.200].

Dia juga mengatakan : “Ketika Mu’awiyah dan temannya memilih jalan kedustaan, kecurangan, penipuan, kemunafikan, suap dan membeli kehormatan, maka Ali tidak dapat melakukan perangai yang buruk ini. Oleh karenanya, tidak heran kalau Mu’awiyah dan teman-temannya berhasil sedang Ali gagal, tapi kegagalan ini lebih mulia dari kesuksesan”. [Kutubun wa Syakhshiyaa hal.242]

Masihkah orang yang jelas-jelas melecehkan para sahabat bahkan menghina seorang Nabi dan masih banyak penyimpangannya,[22] kalian jadikan sebagai ulama rujukan kalian ?! Inikah ulama yang kalian hormati dan kalian bela sampai mati ?! Manakah akhlak kalian kepada para nabi dan kepada para sahabat Rasul (صلى الله عليه و سلم) ?! Manakah pembelaan kalian kepada para nabi dan para sahabat Rasul (صلى الله عليه و سلم) yang dilecehkan oelh Sayyid kalian ?! Tidakkah kalian takut kepada ancaman Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) :

“Allah melaknat orang yang melindungi/membela pelaku kebid’ahan.” (HR. Muslim)

TUDUHAN BASI TANPA BUKTI

Adapun syubhat yang kalian bawa dari Fauzan al-Anshari adalah syubhat basi. Silahkan pembaca lihat kembali bantahan kami tentangnya pada edisi 15-16 tahun 1426 H/2005 M. Begitu juga tuduhan kalian bahwa Dakwah Salafiyah Murjiah, telah kami kupas panjang lebar dalam edisi 21. Dan tuduhan dusta ini merupakan warisan kelompok Khawarij terdahulu, sebagaimana yang diceritakan oleh Ishaq bin Rohawaih dari Syaiban bin Farukh (seorang Khawarij) bahwasanya dia pernah berkata : “Aku bertanya kepada Abdullah bin Mubarok : Apa pendapatmu mengenai orang yang berzina, meminum khomer dan selainnya, apakah dia mukmin? Abdullah bin Mubarok menjawab: Aku tidak mengeluarkannya dari keimanan. Syaiban berkata : Dengan usiamu yang tua ini engkau menjadi Murjiah ?! Abdullah bin Mubarok menjawab : Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya Murjiah tidak menerimaku. Aku mengatakan iman itu bertambah sedangkan Murjiah tidak mengatakan seperti itu.”[23]

Alangkah miripnya kalian (Sabili cs) dengan orang Khawarij tersebut ?!

DEBAT DITIMBANG DENGAN KEBENARAN DAN MANFAAT

Mengenai syubhat kalian bahwa Salafi kerap menolak diajak berdebat terbuka. Maka ini tidak lain karena kalian melihat ketidak adanya manfaat dalam debat-debat tersebut dan ini hanyalah mengikuti jejak ulama salaf yang telah banyak mewasiatkan kepada kita untuk tidak debat kusir yang tidak bermanfaat, apalagi dengan mngerahkan massa. Dan inilah ciri salafi sejati mengikuti nasehat salafushaleh. Inilah ucapan mereka :

  1. Al-Hasan al-Basri (رحمه الله) dan Muhammad bin Siirin (رحمه الله) berkata : Janganlah kalian duduk bersama pengekor hawa nafsu dan janganlah kalian berdebat kusir dengan mereka.[25]
  2. Abu Qilabah (رحمه الله) berkata : Janganlah kalian duduk bersama para pengekor hawa nafsu dan janganlah kalian berdebat kusir dengan mereka, karena aku khawatir mereka akan menjerumuskan kalian dalam kesesatan mereka atau menyamar-nyamarkan atas kalian apa yang dahulu kalian telah ketahui.[25]
  3. Imam Ahmad (رحمه الله) berkata : Prinsip aqidah kita adalah… meninggalkan debat kusir dan duduk dengan pengekor hawa nafsu.[26]
  4. Imam asy-Syafi’i (رحمه الله) berkata : Aku tidak pernah berdebat dengan seorang pun yang telah aku ketahui dia akan terus bergelimang dalam kebid’ahannya.[27]
  5. Imam Abu Utsman ash-Shaabuni (رحمه الله) berkata : tentang ciri/adab ahli hadits : Mereka membenci ahli bid’ah yang mengarang-ngarang ajaran (agama) baru yang bukan darinya. Ahli hadits tidak mencintai mereka dan tidak berteman dekat dengan mereka, tidak duduk bermajlis dengan mereka serta tidak berdebat kusir dengan mereka dalam urusan agama ini. Mereka menjaga telinga mereka dari mendengar kebatilan-kebatilan ahli bid’ah yang apabila melewati telinga dan melekat dalam hati akan membahayakan dan menyeret kepada waswas dan bisikan yang rusak. Oleh karena itu pula Allah berfirman :

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” (QS. al-An’aam:68).[28]

Dan masih banyak lagi ucapan ulama salaf yang senada dengan hal di atas.

Meskipun demikian, Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin berkata : Debat dalam agama ada dua :

  • Tujuannya adalah untuk menguatkan kebenaran dan membasmi kebatilan. Ini hukumnya terkadang bisa wajib, atau mustahab sesuai dengan keadaan, berdasarkan firman Allah :

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. an-Nahl:125)

  • Tujuannya untuk berlebih-lebihan, menang-menangan, atau untuk membela kebatilan, maka ini jelek dan terlarang, berdasarkan firman Allah :
  • “Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir.” (QS. Ghafir:4)

    “Dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku adzab mereka. Maka betapa (pedihnya) adzab-Ku?.” (QS. Ghafir:5)[29]

    Kemudian seandainya ada seorang salafi kalah berdebat dengan ahli bid’ah, maka ini tidak menunjukkan akan kebenaran bid’ah dan kesesatan mereka.

    Imam Abdurazzaq bin Hammam ash-Shan’aani (رحمه الله) berkata : Agama bukan bagi yang menang (dalam debat).[30]

    Ukuran kebenaran adalah al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shaleh.

    Semoga Allah menampakkan kepada kita yang haq itu haq dan kita diberi kekuatan untuk mengikutinya, dan yang batil itu batil serta kita diberi kekuatan untuk menjauhinya.

    @1431 Copyright Tasjilat Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah
    Copyright on Facebook Maktabah Ibnu Baladraf

    Publikasi Ulang via Blog oleh Moslemsunnah.Wordpress.com

    ————————–

    —-

    1. Lihat Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah 1/244 oleh Imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi (رحمه الله).
    Asy-Syariah 1/342.
    3. At-Tamhid 17/16.
    4. Ahkamul Qur’an 2/534
    5. Tafsir Abi Muzhoffar as-Sam’ani 2/42.
    6. Masaailil Iman 340-341.
    7. Al-Bahru Muhith (3/493).
    8. Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an (6/191).
    9. Al-Farqu Bainal Firaq hal.361
    10. Majmu’ Fatawa 12/366-367
    11. Majmu’ Fatawa 13/31, dan lihat Syarhul Ashfahaniyah hal.255
    12. Ma’alim Fith-Thariq hal.158
    13. 2/1057
    14. Fii Dzilalil Qur’an 4/2122
    15. Dan inilah sumber terorisme dan radikalisme yang ada sekarang. Insya Allah akan kita ulan lagi lebih luas di kesempatan yang lain tentang hal ini.
    16. Imam al-Bukhari mengatakan dalam shahihnya kitab al-Jihad : Bab “Tidak boleh mengatakan si fulan syahid”.
    17. Aulawiyaat al-Harakah al-Islamiyah hal.110
    18. Al-Ikhwanul Muslimin fii Mizanil Haq hal.115
    19. Al-Hukmu wa Qadhiyatu Takfiri Muslim hal.50
    20. Dinukil dari kitab at-Takfir wa Dhawaabithuhu hal.39-42 oleh Syaikh Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili.
    21. Al-Ittijaahaat al-Fikriyah al-Mu’ashirah hal.279
    22. Lihat Adz-Dzakhiirah Edisi 24
    23. Musnad Ishaq 3/670
    24. Sunan ad-Daarimi 1/110
    25. Idem 1/108
    26. Ushulussunnah Point 5
    27. Manaqib al-Baihaqi 1/175. Dan ucapan Imam asy-Syafi’i ini merupakan salah satu rambu-rambu dalam berdebat. Jika dirasa debat tersebut tidak ada manfaatnya, hanya untuk menang-menangan atau untuk mencari ketenaran, atau pembenaran bukan kebenaran, maka buat apa berdebat. Rasulullah (صلى الله عليه و سلم) bersabda : “Di antara kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya”. (HR. Tirmidzi)
    28. Aqidatusalaf Ashhaabul Hadits point 161 hal.114
    29. Syarah Lum’atul I’tiqad Oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin hal.160
    30. Al-Bid’ah wan Nahyu ‘anha hal.59 oleh Ibnu Wadhdhah.
    2.